Ditopang Pembiayaan Produktif, Kredit BCA Tumbuh 8% Jadi Rp1.036 Triliun
Di tengah gempuran suku bunga dan persaingan likuiditas antarbank, BCA justru tancap gas di segmen korporasi. Hasilnya: laba bersih Rp29,5 triliun dan rasio kredit bermasalah yang makin tipis.
Bank pelat merah swasta terbesar di Indonesia ini kembali menunjukkan kelasnya. PT Bank Central Asia Tbk (IDX: BBCA) membukukan laba bersih konsolidasi Rp29,5 triliun sepanjang semester I 2026 — angka yang tidak datang begitu saja, melainkan ditopang mesin utama bank: penyaluran kredit yang terus menanjak, khususnya ke sektor produktif.
Per akhir Juni 2026, total kredit BBCA menembus Rp1.036 triliun, tumbuh 8% secara tahunan (YoY). Yang menarik, motor penggeraknya bukan kredit konsumtif, melainkan pembiayaan produktif senilai Rp802 triliun yang melesat 11% YoY — lebih kencang dari pertumbuhan kredit secara keseluruhan.
Korporasi Jadi Lokomotif, UKM Ikut Terangkat
Bongkar lebih dalam komposisi kredit produktif BCA, kredit korporasi jadi juara pertumbuhan dengan kenaikan 13,6% YoY menjadi Rp513,4 triliun — kenaikan tertinggi di antara seluruh segmen. Sementara gabungan kredit komersial dan Usaha Kecil Menengah (UKM) tumbuh 6,6% YoY menjadi Rp288,5 triliun, menunjukkan geliat sektor riil di luar korporasi besar tak kalah hidup.
Komposisi Kredit Produktif Rp802 Triliun
Bukan Cuma Tumbuh, Kualitasnya Juga Membaik
Yang bikin cerita ini makin manis: ekspansi kredit jumbo itu tidak dibarengi kenaikan risiko. Rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) BCA justru mengetat ke level 1,9% pada semester I 2026, membaik dari 2,2% pada periode sama tahun lalu. Rasio pinjaman berisiko (Loan at Risk/LAR) pun ikut turun ke 4,9%, dari sebelumnya 5,7%.
Dana Murah Makin Mendominasi Pendanaan
Ekspansi kredit sebesar itu tentu butuh amunisi dana yang kuat. Di sisi pendanaan, BCA mencatatkan total Dana Pihak Ketiga (DPK) Rp1.284 triliun, tumbuh 7,9% YoY per Juni 2026. Penopangnya adalah dana murah alias Current Account Savings Account (CASA) yang naik lebih kencang, 10,2% YoY, menjadi Rp1.082 triliun.
Kontribusi CASA terhadap total DPK naik menjadi 85,2%, dari 83,4% pada tahun sebelumnya — sinyal struktur pendanaan BCA yang semakin efisien dan berbiaya rendah.
Yang Perlu Dicermati Investor
Pertumbuhan kredit dan perbaikan kualitas aset yang berjalan beriringan seperti ini memang jadi kombinasi ideal bagi bank. Namun, kinerja satu semester tetap perlu dilihat dalam konteks tren yang lebih panjang serta arah suku bunga dan likuiditas perbankan nasional ke depan. Dalam paparan publik tersebut, hadir pula Corporate Secretary BCA Rudy Budiardjo dan EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn, yang menegaskan komitmen manajemen untuk terus menyalurkan kredit secara selektif dan proporsional di berbagai sektor guna mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

0Komentar