Analisa Fundamental · INET

Analisa ini membedah Laporan Keuangan Interim Auditan PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET) untuk periode 6 bulan yang berakhir 30 Juni 2026, dibandingkan periode yang sama tahun 2025 dan posisi akhir 31 Desember 2025. Semester ini jadi titik balik penting bagi INET — bukan cuma soal angka yang melonjak, tapi juga soal perubahan wajah bisnis perusahaan setelah mengonsolidasikan PT Personel Alih Daya Tbk ke dalam grup.

📄 Sumber data: Laporan Keuangan Interim Auditan INET per 30 Juni 2026 — keterbukaan informasi resmi di idx.co.id (Surat No. 167/INET-OJK/IX/2026).

01 · Sumber Pendapatan

Dari Mana Pendapatan INET Semester Ini?

Pendapatan INET di semester I 2026 tercatat Rp926,45 miliar, melonjak +1.959% dari Rp45,00 miliar pada semester I 2025. Tapi yang lebih penting dari angka totalnya adalah komposisinya berubah total — mayoritas pendapatan sekarang bukan lagi dari bisnis internet/ISP, melainkan dari jasa alih daya (outsourcing SDM) hasil konsolidasi PT Personel Alih Daya Tbk yang mulai masuk grup INET di tahun 2026.

Komposisi Pendapatan — Semester I 2026
Total pendapatan: Rp926,45 miliar
84,5%Jasa Alih Daya
Jasa Alih Daya — Rp782,87 M (84,5%) Jasa Internet/ISP — Rp143,59 M (15,5%)
49,3%1 Klien Terbesar
PT Nusantara Ekspres Kilat — 49,3% Pelanggan lainnya — 50,7%
Komponen PendapatanSemester I 2026% Total
Jasa Alih Daya & Pengelolaan SDMRp782.865.955.19784,5%
Jasa Layanan Internet (ISP)Rp143.587.371.94315,5%
Total PendapatanRp926.453.327.140100%
Perhatikan konsentrasi pelanggan. Satu pelanggan, PT Nusantara Ekspres Kilat, menyumbang Rp456,46 miliar atau 49,3% dari total pendapatan INET semester ini — hampir separuh dari seluruh pendapatan grup bergantung pada satu klien. Ini risiko konsentrasi yang signifikan: kalau kontrak dengan klien ini berhenti atau menyusut, dampaknya ke pendapatan INET akan sangat terasa.
02 · Bisnis Utama

Bisnis Utama INET Sekarang: Bukan Cuma ISP Lagi

Sejak berdiri 2016, bisnis inti INET adalah infrastruktur konektivitas B2B — data center interconnection, collocation, local loop/local access, managed service, dan IP transit untuk mitra ISP. Tapi di tahun 2026, INET melakukan langkah besar: mengonsolidasikan PT Personel Alih Daya Tbk (perusahaan alih daya/outsourcing SDM yang sudah beroperasi sejak 2006 dan juga berstatus Tbk) dengan kepemilikan 53,57%. Dari sisi pendapatan, lini bisnis alih daya ini sekarang justru menjadi tulang punggung utama grup — bukan lagi bisnis ISP yang jadi asal mula INET.

Selain itu, INET juga terus memperluas jejak di sektor teknologi lewat sejumlah entitas anak lain — mulai dari penyewaan jaringan fiber optic, ISP daerah, hingga pengolahan data/data center. Berikut daftar entitas anak INET per 30 Juni 2026:

Entitas AnakLini BisnisKepemilikanTotal Aset
PT Personel Alih Daya TbkJasa alih daya & pengelolaan SDM53,57%Rp336,6 M
PT Garuda Prima InternetindoInternet Service Provider (ISP)99,96%Rp3,01 T
PT Pusat Fiber IndonesiaPenyewaan jaringan fiber optic99,99%Rp699,1 M
PT Trans Hybrid CommunicationPerdagangan & teknologi informasi/komunikasi60,00%Rp163,0 M
PT Internusa Daya MakmurPerdagangan & teknologi informasi/komunikasi99,76%Rp100,5 M
PT Data Prima SolusindoInternet Service Provider (ISP)99,99%Rp35,9 M
PT Sinergi Inti Data IndonesiaPengolahan data, platform digital & hosting85,00%Rp22,1 M
PT Dukodu Digital SolutionPerdagangan & teknologi informasi/komunikasi59,00%Rp16,6 M
PT THC Digital SolutionPerdagangan & teknologi informasi/komunikasi59,00%Rp10,4 M
PT Internet Anak BangsaKonstruksi & perdagangan99,00%Rp1,8 M

Catatan: PT Sinergi Inti Data Indonesia baru mulai beroperasi komersial di 2026, sejalan dengan rencana INET masuk ke bisnis data center yang lebih dalam.

03 · Margin Bisnis

Margin Menipis Meski Pendapatan Melonjak

Ini bagian yang penting untuk dicermati: walau pendapatan naik hampir 20 kali lipat, margin INET justru menyusut cukup dalam. Penyebabnya sederhana — bisnis alih daya yang sekarang mendominasi pendapatan secara historis punya margin jauh lebih tipis dibanding bisnis ISP/infrastruktur, karena sebagian besar biayanya adalah gaji & kompensasi tenaga alih daya yang diteruskan langsung ke klien.

Margin Kotor & Margin Bersih
Perbandingan Semester I 2025 vs Semester I 2026
37,3%
13,2%
17,0%
3,7%
Margin Kotor
Margin Bersih
Margin Kotor H1'25 Margin Kotor H1'26 Margin Bersih H1'25 Margin Bersih H1'26
Margin Kotor
13,2%
↓ dari 37,3%
Margin Usaha (Operating)
7,9%
↓ dari 21,9%
Margin Bersih
3,7%
↓ dari 17,0%

Dengan kata lain, INET sekarang jadi perusahaan dengan skala pendapatan jauh lebih besar tapi kualitas margin lebih tipis — pola khas perusahaan jasa outsourcing SDM (revenue pass-through tinggi, margin tipis). Investor perlu membedakan antara "pendapatan tumbuh" dan "profitabilitas membaik" — di kasus INET semester ini, keduanya bergerak berlawanan arah.

04 · Prospek Bisnis

Prospek: Amunisi Kas Besar, tapi Belum Ada Kepastian Kontrak Jangka Panjang

Laporan keuangan INET tidak mengungkapkan angka order-book atau backlog kontrak secara eksplisit (hal yang umum untuk laporan keuangan di Indonesia). Tapi ada beberapa sinyal forward-looking yang bisa dibaca dari neraca & catatan atas laporan keuangan:

Kas & Setara Kas
Rp4,34 T
71% dari total aset
Uang Muka IRU Belum Terealisasi
Rp481,1 M
↑ 309%
Obligasi + Sukuk Diterbitkan
Rp1,0 T
baru 2026

Amunisi ekspansi besar, belum sepenuhnya dipakai. Kas & setara kas INET melonjak ke Rp4,34 triliun — setara 71% dari total aset perseroan — hasil dari kombinasi right issue Rp3,2 triliun, penerbitan obligasi & sukuk ijarah masing-masing Rp500 miliar, dan fasilitas pinjaman bank baru Rp774,66 miliar. Dana sebesar ini menunjukkan kapasitas ekspansi yang sangat besar untuk memperluas jaringan, data center, dan kemungkinan akuisisi lanjutan — tapi juga berarti sebagian besar dana ini belum terpakai/belum menghasilkan pendapatan.

Sinyal kontrak jangka panjang dari IRU. Uang muka untuk Indefeasible Right-of-Use (IRU) — semacam kontrak sewa kapasitas jaringan fiber jangka panjang — naik 309% menjadi Rp481,1 miliar, namun belum terealisasi/belum diakui sebagai pendapatan. Ini mengindikasikan ada pipeline kontrak jaringan yang sedang berjalan, meski besarannya belum tercermin di laporan laba rugi periode ini.

Ekspansi ke data center. Anak usaha baru PT Sinergi Inti Data Indonesia yang baru beroperasi komersial di 2026 menjadi kendaraan INET untuk masuk lebih dalam ke bisnis data center — segmen yang permintaannya terus tumbuh seiring adopsi cloud & AI di Indonesia, meski kontribusinya terhadap pendapatan grup belum terlihat signifikan di semester ini.

Ringkasnya: prospek jangka pendek INET akan sangat bergantung pada seberapa cepat manajemen mendeploy kas besar hasil right issue & obligasi/sukuk menjadi aset produktif (jaringan, data center, ekspansi bisnis alih daya), dan seberapa berhasil mendiversifikasi basis pelanggan agar tidak terlalu bergantung pada satu klien besar.
05 · Laba

Laba Bersih Melompat, tapi Perlu Dibaca Bersama Dilusi

Laba Bersih (Total)
dalam miliar Rupiah
7,66
34,21
H1 2025
H1 2026
+346,7% dibanding periode sama tahun lalu
Laba Sebelum Pajak
Rp40,14 M
↑ 298,1%
Laba Bersih (Total)
Rp34,21 M
↑ 346,7%
Laba ke Pemilik Induk
Rp33,67 M
↑ 340,0%

Laba bersih total INET semester I 2026 tercatat Rp34,21 miliar, melonjak 346,7% dari Rp7,66 miliar di semester I 2025. Dari jumlah itu, Rp33,67 miliar diatribusikan ke pemilik entitas induk (pemegang saham INET), sisanya Rp539 juta ke kepentingan non-pengendali (pemegang saham minoritas di entitas anak seperti PT Personel Alih Daya Tbk).

Laba per Saham Dasar
Rp3,13
dari Rp1,01
Laba per Saham Dilusian
Rp2,62
dari Rp0,85
Margin Bersih
3,7%
dari 17,0%
Perhatikan gap antara EPS dasar dan dilusian. Laba per saham dasar Rp3,13 vs dilusian Rp2,62 — selisih ini mencerminkan potensi dilusi dari Waran Seri II hasil right issue yang belum di-exercise. Ke depan, begitu right issue & waran terealisasi penuh dan jumlah saham beredar bertambah signifikan (rasio HMETD 3:4), laba per saham berpotensi tertekan lebih jauh sebelum ekspansi bisnis baru benar-benar berbuah pendapatan & laba yang sepadan.
06 · Struktur Biaya

Ke Mana Larinya Setiap Rupiah Pendapatan?

Struktur biaya INET semester ini didominasi oleh beban pokok penjualan — wajar, karena bisnis alih daya SDM membawa beban gaji/kompensasi tenaga kerja yang jauh lebih besar dibanding beban operasional jaringan pada bisnis ISP.

Struktur Biaya terhadap Pendapatan — Semester I 2026
Setiap Rp100 pendapatan INET habis untuk...
Beban Pokok 86,8% Laba 3,7%
Beban Pokok Penjualan — 86,8% Beban Penjualan + Umum & Administrasi — 5,3% Beban Bunga & Keuangan (neto) — 3,4% Pajak & lain-lain — 0,9% Sisa jadi Laba Bersih — 3,7%
Komponen BiayaH1 2026H1 2025Perubahan
Beban Pokok PenjualanRp804,35 MRp28,22 M+2.750%
Beban PenjualanRp1,69 MRp0,49 M+245%
Beban Umum & AdministrasiRp46,97 MRp6,42 M+632%
Beban Bunga & KeuanganRp50,06 MRp0,06 M+77.611%
Beban Pajak PenghasilanRp5,93 MRp2,43 M+145%
Beban bunga melonjak drastis. Beban bunga & keuangan naik dari cuma Rp64 juta menjadi Rp50,06 miliar — lompatan lebih dari 770 kali — seiring penerbitan obligasi Rp500 miliar, sukuk ijarah Rp500 miliar, dan pinjaman bank jangka pendek Rp774,66 miliar sepanjang semester ini. Beban bunga ini sekarang jadi salah satu penekan utama margin bersih, bahkan nilainya sudah mendekati beban umum & administrasi perseroan.
07 · Perubahan Signifikan

Neraca Melonjak 8 Kali Lipat dalam Satu Semester

Selain laporan laba rugi, neraca INET juga berubah drastis dalam waktu singkat — didorong kombinasi tiga aksi korporasi besar: right issue Rp3,2 triliun, penerbitan obligasi & sukuk ijarah Rp1 triliun, dan kombinasi bisnis (akuisisi PT Personel Alih Daya Tbk & beberapa entitas lain).

Total Aset, Liabilitas & Ekuitas
dalam triliun Rupiah · 31 Des 2025 vs 30 Jun 2026
0,76T
6,11T
0,33T
2,30T
0,43T
3,81T
Total Aset
Liabilitas
Ekuitas
Aset · 31 Des 2025 Aset · 30 Jun 2026 Liabilitas · 31 Des 2025 Liabilitas · 30 Jun 2026 Ekuitas · 31 Des 2025 Ekuitas · 30 Jun 2026
Pos30 Jun 202631 Des 2025Perubahan
Kas & Setara KasRp4.336,91 MRp404,44 M+972%
Piutang UsahaRp289,94 MRp8,52 M+3.303%
Aset Tetap - NetoRp817,36 MRp163,24 M+401%
GoodwillRp82,97 MRp0,68 M+12.014%
Total AsetRp6.111,01 MRp760,37 M+704%
Utang Bank Jangka PendekRp774,66 MRp0baru
Utang Obligasi (total)Rp495,24 MRp0baru
Sukuk Ijarah (total)Rp495,18 MRp0baru
Total LiabilitasRp2.302,08 MRp331,16 M+595%
Total EkuitasRp3.808,93 MRp429,21 M+787%
Debt to Equity Ratio
0,60x
membaik dari 0,77x
Current Ratio
2,84x
membaik dari 1,48x
Arus Kas Operasi
Rp20,45 M
jauh di bawah laba bersih

Kenaikan aset & ekuitas didominasi aksi korporasi, bukan laba ditahan. Total aset naik 704% dan ekuitas naik 787% — tapi kenaikan sebesar ini datang dari right issue, obligasi, sukuk, dan kombinasi bisnis, bukan dari akumulasi laba operasional. Ini terlihat jelas dari arus kas: arus kas dari aktivitas pendanaan mencapai +Rp4,76 triliun, sedangkan arus kas dari aktivitas operasi cuma +Rp20,45 miliar — jauh di bawah laba bersih akuntansi Rp34,21 miliar, mengindikasikan sebagian laba masih "tertahan" dalam bentuk piutang usaha yang belum tertagih (naik 3.303%).

Sisi positifnya: meski utang berbunga (bank, obligasi, sukuk) naik signifikan, struktur permodalan INET justru lebih sehat pasca right issue — DER turun dari 0,77x ke 0,60x dan current ratio membaik dari 1,48x ke 2,84x, jauh di atas rasio-rasio minimum yang dipersyaratkan dalam perjanjian pinjaman/covenant obligasi perseroan.
Ikuti Halaman khusus pembahasan Fundamental Saham INET dari waktu ke waktu.
Sumber & metodologi. Seluruh angka, rasio, dan infografis dalam analisa ini dihitung langsung dari dokumen resmi Laporan Keuangan Interim Auditan PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk untuk periode 6 bulan yang berakhir 30 Juni 2026 (Surat No. 167/INET-OJK/IX/2026), yang dipublikasikan di keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (IDX). Dokumen sumber dapat diunduh & diverifikasi langsung di: idx.co.id — FinancialStatement-2026-II-INET.pdf. Tidak ada angka proyeksi atau estimasi yang dicampur ke dalam data historis di atas.
Ditulis oleh
Zaenal Mustopa, S.E.
Analis Keuangan, Pareto Saham · Profil lengkap

Analisa ini bersifat informatif & edukatif untuk tujuan riset, bukan rekomendasi, ajakan, atau nasihat untuk membeli/menjual efek tertentu. Redaksi Pareto Saham tidak menerima kompensasi dari PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk maupun afiliasinya sehubungan dengan penulisan artikel ini. Kinerja keuangan masa lalu tidak menjamin kinerja di masa depan. Keputusan investasi sepenuhnya tanggung jawab pembaca — selalu lakukan riset mandiri & rujuk dokumen resmi di IDX/KSEI sebelum mengambil keputusan.