Kenapa saham SCMA turun terus? Update laba dan dividen 2026
Kinerja Emiten & Dividen · Media & Penyiaran

Pada 2023, laba SCMA anjlok 74% dan sahamnya terus turun. Tiga tahun kemudian, laba bersihnya sudah berlipat dan dividennya kembali besar. Tapi apakah harga saham ikut pulih, dan apakah masalah utamanya benar-benar selesai?

Judul lama artikel ini perlu direvisi. Jawaban atas "kenapa saham SCMA turun terus" di 2023 adalah rugi segmen digital. Di 2026, labanya justru naik 67% pada semester I, tetapi harga sahamnya masih di sekitar Rp200-an, jauh di bawah puncaknya di Rp450. Ada yang tidak sinkron antara laba dan harga, dan itulah yang kita bedah di sini.
Isi Artikel
  1. Kenapa saham SCMA turun? Cerita 2023 dan kondisi awalnya
  2. Kinerja SCMA 2025 dan semester I 2026
  3. Dividen SCMA: interim Rp9 dan final Rp12
  4. Emtek (EMTK) kuasai 74% SCMA: apa artinya?
  5. Vidio, SCTV, dan Indosiar: peta bisnis SCMA sekarang
  6. Kenapa harga saham belum pulih?
  7. Risiko saham SCMA
  8. Memakai AI untuk membaca laporan emiten media
  9. FAQ
Rp536,44 MLaba Bersih S1 2026 (+67,27%)
Rp3,54 TPendapatan S1 2026
+89,55%Laba Usaha S1 2026
Rp21Total Dividen per Saham Tahun Buku 2025
Sumber: laporan keuangan SCMA per 30 Juni 2026 (unaudited) dan keterbukaan informasi dividen.

1. Kenapa Saham SCMA Turun? Cerita 2023 yang Jadi Titik Awal

Versi lama artikel ini ditulis pada pertengahan 2023. Saat itu, PT Surya Citra Media Tbk (SCMA), induk SCTV dan Indosiar, mencatat laba bersih kuartal I-2023 turun 74% menjadi Rp67 miliar. Laba kuartal IV-2022 bahkan tercatat sebagai yang terendah sejak 2008, sekitar Rp16 miliar. Penyebab utamanya adalah kerugian segmen digital dan iklan luar ruangan, dengan Vidio sebagai motor "bakar uang" untuk mengejar pengguna.

Di sisi lain, penonton bergeser dari televisi ke YouTube, TikTok, Instagram, dan Netflix. Harga saham SCMA saat itu sudah turun sekitar 64% dari puncak lima tahun terakhir, dari Rp450 ke Rp162. Dividen juga sempat tidak dibagikan pada 2020–2021.

2. Kinerja SCMA 2025 dan Semester I 2026: Laba Pulih Tajam

Gambarnya kini berbeda. Pada kuartal I-2026, laba bersih SCMA mencapai Rp307,63 miliar, dua kali lipat dari Rp153,65 miliar pada kuartal I-2025 dan jauh di atas Rp67 miliar pada kuartal I-2023. Laba per saham dasar naik dari Rp2,42 menjadi Rp4,84.

Laba Bersih Kuartal I: 2023 vs 2025 vs 2026 (Rp Miliar)
Kuartal I 2023
67
Kuartal I 2025
153,65
Kuartal I 2026
307,63

Pada semester I-2026, pendapatan neto SCMA naik menjadi Rp3,54 triliun dari Rp3,32 triliun. Pada saat yang sama, beban program dan siaran turun dari Rp2,07 triliun menjadi Rp2,02 triliun. Kombinasi ini membuat laba usaha melonjak 89,55% menjadi Rp671,60 miliar, dan laba bersih yang diatribusikan ke pemilik entitas induk naik 67,27% menjadi Rp536,44 miliar.

Pos20242025Perubahan
PendapatanRp7,05 TRp6,88 T−2,41%
Laba usahaRp654,52 MRp893,87 M+36,6%
Laba bersih (induk)Rp594,85 MRp771,02 M+29,61%
Total ekuitasRp8,35 TRp7,59 Tturun
Perubahan laba usaha dihitung redaksi dari angka laporan. Sumber: laporan keuangan SCMA per 31 Des 2025.
Catatan kualitas laba: pendapatan 2025 justru turun 2,41%, sementara laba naik karena efisiensi beban program dan pendapatan operasi lainnya. Pada semester I-2026, pendapatan memang naik sekitar 6,6% (dihitung redaksi dari Rp3,32 T ke Rp3,54 T), tetapi kenaikan laba jauh melampaui kenaikan pendapatan. Artinya pemulihan lebih banyak datang dari efisiensi biaya daripada pertumbuhan penjualan.

3. Dividen SCMA: Interim Rp9 dan Final Rp12 untuk Tahun Buku 2025

SCMA kembali menjadi saham yang dilirik karena dividen. Untuk tahun buku 2025, perseroan membagikan dividen interim Rp9 per saham (dibayar 9 Desember 2025, senilai Rp571,20 miliar) dan dividen final Rp12 per saham senilai Rp762,06 miliar, sehingga totalnya Rp21 per saham.

Jadwal Dividen Final SCMA Tahun Buku 2025
21 Mei 2026
RUPST menyetujui pembagian dividen final Rp12 per saham.
3 – 4 Jun 2026
Cum dividen (3 Jun) dan ex dividen (4 Jun) di pasar reguler dan negosiasi.
5 – 8 Jun 2026
Cum dividen pasar tunai (5 Jun, sekaligus recording date) dan ex dividen pasar tunai (8 Jun).
18 Jun 2026
Pembayaran dividen tunai.

Dengan harga saham sekitar Rp222 pada 21 Mei 2026, imbal hasil dividen final saja diperkirakan sekitar 5,4%. Ada catatan penting: total dividen tahun buku 2025 (Rp21 per saham) melebihi laba bersih tahun itu, karena sebagian diambil dari laba ditahan yang tidak dibatasi penggunaannya sebesar Rp5,91 triliun. Itu sebabnya total ekuitas turun dibandingkan 2024. Dividen sebesar ini tidak selalu bisa dipertahankan setiap tahun.

4. Emtek (EMTK) Kuasai 74% SCMA: Apa Artinya bagi Pemegang Saham Publik?

Pada versi lama, Emtek memegang sekitar 60,97% saham SCMA. Kepemilikannya kini jauh lebih besar: berdasarkan data BEI per Februari 2026, EMTK menguasai sekitar 74,02% setelah membeli sekitar 2,33 miliar saham, dan per akhir Juni 2026 tercatat memegang sekitar 55,05 miliar lembar saham. RUPST Mei 2026 juga menyetujui pengurangan modal melalui penarikan 10,4 miliar saham hasil pembelian kembali (treasury stock).

DampakSisi positifSisi yang perlu diwaspadai
Pengendali makin dominanKomitmen jangka panjang Emtek, dukungan strategi ekosistem mediaPorsi publik makin kecil, likuiditas saham bisa terbatas
Buyback dan penarikan sahamJumlah saham beredar berkurang, laba per saham terdongkrakKas keluar untuk buyback tidak bisa dipakai untuk hal lain
Aliran dividenDividen besar menguntungkan induk dan pemegang saham publikDividen melebihi laba bisa menggerus ekuitas

5. Vidio, SCTV, dan Indosiar: Peta Bisnis SCMA Sekarang

SCMA mengoperasikan stasiun televisi SCTV dan Indosiar, portal digital seperti Liputan6, serta platform streaming Vidio yang diakuisisi dari Emtek pada 2019. Vidio menjadi platform OTT nomor satu di Indonesia pada kuartal III-2024 dengan sekitar 4,5 juta pelanggan berbayar menurut laporan AMPD yang dikutip Emtek. Pada 2025, analis menyebut Vidio sudah mencetak keuntungan, dan wacana IPO Vidio kembali mengemuka.

Perbandingan Kondisi SCMA: 2023 vs 2026
2023
Laba kuartal I Rp67 M (−74%), segmen digital dan iklan luar ruangan merugi Rp328 M, dividen sempat tidak dibagikan 2020–2021.
2026
Laba kuartal I Rp307,63 M (+100%), laba semester I Rp536,44 M (+67%), dividen tahun buku 2025 total Rp21 per saham.

6. Kenapa Harga Saham SCMA Belum Pulih Meski Laba Naik?

Saham SCMA diperdagangkan di sekitar Rp202 pada awal Agustus 2026, setelah berada di sekitar Rp222 pada Mei 2026. Level itu jauh di bawah puncak Rp450 yang disebut pada versi lama. Beberapa alasan yang masuk akal:

Mengapa Pasar Masih Berhati-hati
Pendapatan stagnan
Pendapatan 2025 turun 2,41%. Pasar menilai pemulihan laba lebih banyak dari efisiensi, bukan pertumbuhan.
Tren struktural
Belanja iklan terus bergeser ke platform digital, sehingga televisi konvensional menghadapi tekanan jangka panjang.
Dividen > laba
Pembayaran tinggi mengurangi ekuitas dan kurang berkelanjutan.
Likuiditas
Dengan Emtek memegang sekitar 74%, porsi saham publik yang aktif diperdagangkan lebih kecil.

Beberapa media pasar modal pada awal Oktober 2026 menyebut SCMA berada di fase breakout secara teknikal setelah penurunan harga beberapa bulan terakhir. Itu sinyal teknikal, bukan jaminan, jadi cek harga dan chart terbaru sebelum mengambil keputusan.

7. Risiko Saham SCMA yang Perlu Diwaspadai

Jangan hanya melihat lonjakan laba. Basis perbandingan rendah dan efisiensi biaya bisa membuat pertumbuhan laba berikutnya melambat.
RisikoPenjelasan
Efek basisLaba semester I-2025 relatif rendah, sehingga pertumbuhan persentase semester I-2026 tampak besar.
Liabilitas naikTotal liabilitas naik dari Rp2,17 triliun menjadi Rp3,01 triliun per Juni 2026.
Ketergantungan iklanPendapatan TV sensitif terhadap siklus belanja iklan dan perubahan kebiasaan menonton.
Biaya konten & digitalHak siar olahraga dan konten orisinal Vidio memerlukan investasi besar.

8. Memakai AI untuk Membaca Laporan Emiten Media

Di era AI, investor bisa memakai asisten seperti Claude atau ChatGPT untuk membandingkan laporan keuangan beberapa periode. Namun AI tidak otomatis tahu angka terbaru emiten, dan bisa keliru mengutip. Tempelkan data dari laporan resmi, lalu minta AI hanya menganalisis. Perubahan teknologi AI sendiri juga relevan sebagai risiko: konten yang dihasilkan AI dan platform video bisa makin menggerus waktu menonton dan belanja iklan TV, sehingga layak dipantau sebagai faktor jangka panjang.

Berikut laporan keuangan SCMA kuartal I-2023, kuartal I-2025, kuartal I-2026, dan semester I-2026: [tempel data]. Tugasmu: 1. Bandingkan pendapatan, laba usaha, dan laba bersih antar periode. 2. Jelaskan apakah kenaikan laba dari pendapatan atau pemangkasan biaya. 3. Hitung payout dividen terhadap laba bersih. 4. Sebutkan 3 risiko utama dan angka yang mendukungnya. 5. Jangan beri rekomendasi beli/jual. Tandai angka yang tidak ada di data.

9. Kesimpulan: Dari "Turun Terus" ke "Pulih, tapi Belum Tuntas"

Alasan penurunan di 2023 sudah banyak teratasi di sisi laba: kerugian digital menyusut, laba naik tajam, dan dividen kembali besar. Namun harga saham yang masih jauh dari puncaknya menunjukkan pasar belum yakin pada pertumbuhan pendapatan jangka panjang. Bagi investor, pertanyaannya bukan lagi "kenapa turun terus", melainkan apakah pemulihan laba ini berkelanjutan ketika pendapatan relatif datar dan dividen melebihi laba.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

Kenapa saham SCMA turun terus?Pada 2023, karena laba anjlok akibat rugi segmen digital dan pergeseran penonton ke platform digital. Pada 2026 laba sudah pulih, tetapi harga saham masih jauh di bawah puncaknya.
Berapa laba SCMA semester I-2026?Laba bersih yang diatribusikan ke pemilik entitas induk sebesar Rp536,44 miliar, naik 67,27% dari tahun sebelumnya.
Berapa dividen SCMA untuk tahun buku 2025?Interim Rp9 per saham dan final Rp12 per saham, total Rp21 per saham.
Siapa pemilik mayoritas SCMA?PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK) dengan sekitar 74% pada awal 2026.
Apakah SCMA masih rugi di bisnis digital?Pada 2023 segmen digital merugi besar. Laporan terbaru menunjukkan laba usaha dan laba bersih naik tajam, dan analis pada 2025 menyebut Vidio sudah menghasilkan keuntungan. Rincian per segmen sebaiknya dicek di laporan keuangan terbaru.
Ditulis oleh
Zaenal Mustopa, S.E.
Analis Keuangan, Pareto Saham · Profil lengkap
Disclaimer: Artikel ini disusun untuk tujuan informasi dan edukasi pasar modal, bukan merupakan rekomendasi, ajakan, maupun nasihat untuk membeli atau menjual saham tertentu, termasuk SCMA. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca; pertimbangkan profil risiko dan konsultasikan dengan penasihat keuangan berizin.