Pada 2023, laba SCMA anjlok 74% dan sahamnya terus turun. Tiga tahun kemudian, laba bersihnya sudah berlipat dan dividennya kembali besar. Tapi apakah harga saham ikut pulih, dan apakah masalah utamanya benar-benar selesai?
- Kenapa saham SCMA turun? Cerita 2023 dan kondisi awalnya
- Kinerja SCMA 2025 dan semester I 2026
- Dividen SCMA: interim Rp9 dan final Rp12
- Emtek (EMTK) kuasai 74% SCMA: apa artinya?
- Vidio, SCTV, dan Indosiar: peta bisnis SCMA sekarang
- Kenapa harga saham belum pulih?
- Risiko saham SCMA
- Memakai AI untuk membaca laporan emiten media
- FAQ
1. Kenapa Saham SCMA Turun? Cerita 2023 yang Jadi Titik Awal
Versi lama artikel ini ditulis pada pertengahan 2023. Saat itu, PT Surya Citra Media Tbk (SCMA), induk SCTV dan Indosiar, mencatat laba bersih kuartal I-2023 turun 74% menjadi Rp67 miliar. Laba kuartal IV-2022 bahkan tercatat sebagai yang terendah sejak 2008, sekitar Rp16 miliar. Penyebab utamanya adalah kerugian segmen digital dan iklan luar ruangan, dengan Vidio sebagai motor "bakar uang" untuk mengejar pengguna.
Di sisi lain, penonton bergeser dari televisi ke YouTube, TikTok, Instagram, dan Netflix. Harga saham SCMA saat itu sudah turun sekitar 64% dari puncak lima tahun terakhir, dari Rp450 ke Rp162. Dividen juga sempat tidak dibagikan pada 2020–2021.
2. Kinerja SCMA 2025 dan Semester I 2026: Laba Pulih Tajam
Gambarnya kini berbeda. Pada kuartal I-2026, laba bersih SCMA mencapai Rp307,63 miliar, dua kali lipat dari Rp153,65 miliar pada kuartal I-2025 dan jauh di atas Rp67 miliar pada kuartal I-2023. Laba per saham dasar naik dari Rp2,42 menjadi Rp4,84.
Pada semester I-2026, pendapatan neto SCMA naik menjadi Rp3,54 triliun dari Rp3,32 triliun. Pada saat yang sama, beban program dan siaran turun dari Rp2,07 triliun menjadi Rp2,02 triliun. Kombinasi ini membuat laba usaha melonjak 89,55% menjadi Rp671,60 miliar, dan laba bersih yang diatribusikan ke pemilik entitas induk naik 67,27% menjadi Rp536,44 miliar.
| Pos | 2024 | 2025 | Perubahan |
|---|---|---|---|
| Pendapatan | Rp7,05 T | Rp6,88 T | −2,41% |
| Laba usaha | Rp654,52 M | Rp893,87 M | +36,6% |
| Laba bersih (induk) | Rp594,85 M | Rp771,02 M | +29,61% |
| Total ekuitas | Rp8,35 T | Rp7,59 T | turun |
3. Dividen SCMA: Interim Rp9 dan Final Rp12 untuk Tahun Buku 2025
SCMA kembali menjadi saham yang dilirik karena dividen. Untuk tahun buku 2025, perseroan membagikan dividen interim Rp9 per saham (dibayar 9 Desember 2025, senilai Rp571,20 miliar) dan dividen final Rp12 per saham senilai Rp762,06 miliar, sehingga totalnya Rp21 per saham.
Dengan harga saham sekitar Rp222 pada 21 Mei 2026, imbal hasil dividen final saja diperkirakan sekitar 5,4%. Ada catatan penting: total dividen tahun buku 2025 (Rp21 per saham) melebihi laba bersih tahun itu, karena sebagian diambil dari laba ditahan yang tidak dibatasi penggunaannya sebesar Rp5,91 triliun. Itu sebabnya total ekuitas turun dibandingkan 2024. Dividen sebesar ini tidak selalu bisa dipertahankan setiap tahun.
4. Emtek (EMTK) Kuasai 74% SCMA: Apa Artinya bagi Pemegang Saham Publik?
Pada versi lama, Emtek memegang sekitar 60,97% saham SCMA. Kepemilikannya kini jauh lebih besar: berdasarkan data BEI per Februari 2026, EMTK menguasai sekitar 74,02% setelah membeli sekitar 2,33 miliar saham, dan per akhir Juni 2026 tercatat memegang sekitar 55,05 miliar lembar saham. RUPST Mei 2026 juga menyetujui pengurangan modal melalui penarikan 10,4 miliar saham hasil pembelian kembali (treasury stock).
| Dampak | Sisi positif | Sisi yang perlu diwaspadai |
|---|---|---|
| Pengendali makin dominan | Komitmen jangka panjang Emtek, dukungan strategi ekosistem media | Porsi publik makin kecil, likuiditas saham bisa terbatas |
| Buyback dan penarikan saham | Jumlah saham beredar berkurang, laba per saham terdongkrak | Kas keluar untuk buyback tidak bisa dipakai untuk hal lain |
| Aliran dividen | Dividen besar menguntungkan induk dan pemegang saham publik | Dividen melebihi laba bisa menggerus ekuitas |
5. Vidio, SCTV, dan Indosiar: Peta Bisnis SCMA Sekarang
SCMA mengoperasikan stasiun televisi SCTV dan Indosiar, portal digital seperti Liputan6, serta platform streaming Vidio yang diakuisisi dari Emtek pada 2019. Vidio menjadi platform OTT nomor satu di Indonesia pada kuartal III-2024 dengan sekitar 4,5 juta pelanggan berbayar menurut laporan AMPD yang dikutip Emtek. Pada 2025, analis menyebut Vidio sudah mencetak keuntungan, dan wacana IPO Vidio kembali mengemuka.
6. Kenapa Harga Saham SCMA Belum Pulih Meski Laba Naik?
Saham SCMA diperdagangkan di sekitar Rp202 pada awal Agustus 2026, setelah berada di sekitar Rp222 pada Mei 2026. Level itu jauh di bawah puncak Rp450 yang disebut pada versi lama. Beberapa alasan yang masuk akal:
Beberapa media pasar modal pada awal Oktober 2026 menyebut SCMA berada di fase breakout secara teknikal setelah penurunan harga beberapa bulan terakhir. Itu sinyal teknikal, bukan jaminan, jadi cek harga dan chart terbaru sebelum mengambil keputusan.
7. Risiko Saham SCMA yang Perlu Diwaspadai
| Risiko | Penjelasan |
|---|---|
| Efek basis | Laba semester I-2025 relatif rendah, sehingga pertumbuhan persentase semester I-2026 tampak besar. |
| Liabilitas naik | Total liabilitas naik dari Rp2,17 triliun menjadi Rp3,01 triliun per Juni 2026. |
| Ketergantungan iklan | Pendapatan TV sensitif terhadap siklus belanja iklan dan perubahan kebiasaan menonton. |
| Biaya konten & digital | Hak siar olahraga dan konten orisinal Vidio memerlukan investasi besar. |
8. Memakai AI untuk Membaca Laporan Emiten Media
Di era AI, investor bisa memakai asisten seperti Claude atau ChatGPT untuk membandingkan laporan keuangan beberapa periode. Namun AI tidak otomatis tahu angka terbaru emiten, dan bisa keliru mengutip. Tempelkan data dari laporan resmi, lalu minta AI hanya menganalisis. Perubahan teknologi AI sendiri juga relevan sebagai risiko: konten yang dihasilkan AI dan platform video bisa makin menggerus waktu menonton dan belanja iklan TV, sehingga layak dipantau sebagai faktor jangka panjang.
9. Kesimpulan: Dari "Turun Terus" ke "Pulih, tapi Belum Tuntas"
Alasan penurunan di 2023 sudah banyak teratasi di sisi laba: kerugian digital menyusut, laba naik tajam, dan dividen kembali besar. Namun harga saham yang masih jauh dari puncaknya menunjukkan pasar belum yakin pada pertumbuhan pendapatan jangka panjang. Bagi investor, pertanyaannya bukan lagi "kenapa turun terus", melainkan apakah pemulihan laba ini berkelanjutan ketika pendapatan relatif datar dan dividen melebihi laba.
12Komentar
Bisa juga para selebgram terkenal, youtuber, ajak kolaborasi atau kontrak.
Itulah mungkin ya kalau semakin canggih teknologi, semakin tinggi daya saing untuk dunia pekerjaan dan bisnis di dalamnya.