Nama LAPD belakangan ramai dibicarakan setelah pengendali barunya masuk. Tapi sebenarnya bagaimana kondisi valuasi dan kinerja keuangan PT Leyand International Tbk saat ini? Berikut rangkumannya, mulai dari valuasi, laba bersih, EPS, sampai tren pendapatan — dijelaskan dengan bahasa yang mudah dipahami pemula.
Saham LAPD Bergerak di Bidang Apa?
LAPD adalah kode saham PT Leyand International Tbk, emiten dengan sejarah pergantian arah bisnis yang cukup panjang di Bursa Efek Indonesia. Perseroan berdiri sejak 1990 dengan nama PT Lemahabang Perkasa, lalu mencatatkan saham perdananya pada 2001 sebagai produsen kemasan plastik dengan nama PT Lapindo Packaging Tbk. Perusahaan sempat berpindah lini usaha ke bisnis pembangkit listrik hingga sekitar 2020, sebelum akhirnya beralih menjadi perusahaan investasi.
Titik balik penting terjadi pada 2023, ketika Perseroan mengambil 51% kepemilikan di PT Rusindo Eka Raya, anak usaha yang bergerak di distribusi produk konsumen sehari-hari (FMCG) seperti minyak goreng, pasta gigi, makanan-minuman ringan, pelumas otomotif, hingga produk perawatan rumah tangga di wilayah Tangerang, Tangerang Selatan, Serang, Jakarta, dan Bogor. Babak terbaru dimulai pada akhir 2025, saat PT JSI Sinergi Mas — kelompok usaha yang bergerak di bidang pertambangan — mengambil alih 51% saham pengendali LAPD, dengan rencana menjadikan Perseroan sebagai kendaraan ekspansi ke sektor pertambangan, logistik, dan energi hijau.
Pergantian arah bisnis yang berulang ini penting diketahui investor, karena angka-angka keuangan LAPD dalam beberapa periode terakhir kemungkinan besar masih mencerminkan masa transisi antara bisnis lama (distribusi FMCG) dan arah bisnis baru pasca-akuisisi.
Apa Itu Saham LAPD Secara Ringkas?
Dari sisi ukuran, berikut gambaran cepat kapitalisasi pasar dan struktur saham LAPD saat ini:
Berapa Valuasi Saham LAPD Saat Ini?
Karena laba bersihnya masih negatif dalam basis tahunan berjalan, sebagian besar rasio valuasi berbasis laba pada LAPD justru bernilai negatif — ini bukan berarti "murah", melainkan sinyal bahwa Perseroan masih dalam posisi merugi secara mendasar.
| Metrik Valuasi | Nilai | |
|---|---|---|
| PER (Annualised) | -33,23x | Rugi |
| PER (TTM) | -41,36x | Rugi |
| Forward PER | - | Belum Tersedia |
| PER Median IHSG (TTM) | 7,97x | Acuan Pasar |
| Earnings Yield (TTM) | -2,42% | Negatif |
| Price to Sales (TTM) | 1,61x | Moderat |
| Price to Book Value | -11,63x | Ekuitas Negatif |
| Price to Cashflow (TTM) | -25,84x | Negatif |
| Price to Free Cashflow (TTM) | -25,81x | Negatif |
| EV/EBIT (TTM) | -63,46x | Negatif |
| EV/EBITDA (TTM) | -118,91x | Negatif |
| PEG Ratio | -0,60 | Tidak Bermakna |
| PEG Ratio (3yr) | - | Belum Tersedia |
| PEG (Forward) | - | Belum Tersedia |
Satu titik yang perlu digarisbawahi: Price to Book Value tercatat -11,63x. Rasio PBV yang negatif hanya bisa terjadi jika ekuitas (modal) Perseroan berada dalam posisi negatif — artinya total liabilitas lebih besar dari total aset. Ini adalah sinyal struktur permodalan yang lemah dan biasanya berkaitan erat dengan riwayat kerugian yang terakumulasi dari periode-periode sebelumnya. Rasio EV/EBIT dan EV/EBITDA yang juga negatif memperkuat gambaran bahwa laba operasional Perseroan pada level TTM belum positif. Satu-satunya rasio yang relatif "normal" adalah Price to Sales sebesar 1,61x, yang menunjukkan bahwa dari sisi pendapatan Perseroan masih punya basis bisnis riil, meskipun belum menghasilkan laba operasional yang memadai.
Bagaimana Tren Laba Bersih LAPD?
Berikut rincian laba/rugi bersih per kuartal dalam tiga tahun terakhir:
| Periode | 2026 | 2025 | 2024 |
|---|---|---|---|
| Q1 | -Rp2 M | Rp353 Jt | -Rp2 M |
| Q2 | - | -Rp2 M | -Rp348 Jt |
| Q3 | - | Rp858 Jt | -Rp621 Jt |
| Q4 | - | -Rp3 M | -Rp10 M |
| Annualised | - | -Rp8 M | -Rp14 M |
| TTM (Q1) | Rp7 M | -Rp4 M | -Rp14 M |
M = Miliar Rupiah, Jt = Juta Rupiah.
Polanya cukup fluktuatif: kerugian besar sempat terjadi di kuartal keempat 2024 (-Rp10 miliar), lalu berangsur mengecil sepanjang 2025 dengan sempat mencatat laba tipis di Q1 dan Q3 2025. Basis TTM (Q1) justru berbalik positif menjadi Rp7 miliar di 2026, dibanding masih minus Rp4 miliar dan minus Rp14 miliar pada periode yang sama tahun-tahun sebelumnya. Data dividen, payout ratio, dan dividend yield yang kosong menunjukkan Perseroan belum membagikan dividen dalam periode-periode ini — hal yang wajar bagi emiten yang riwayat labanya masih belum konsisten.
Bagaimana Pergerakan Laba Bersih per Saham (EPS)?
Earning Per Share (EPS) menerjemahkan laba/rugi bersih tadi menjadi angka per lembar saham, sehingga lebih mudah dibandingkan antar periode:
| Periode | 2026 | 2025 | 2024 |
|---|---|---|---|
| Q1 | -0,52 | 0,09 | -0,56 |
| Q2 | - | -0,61 | -0,09 |
| Q3 | - | 0,22 | -0,16 |
| Q4 | - | -0,75 | -2,64 |
| Annualised | - | -2,08 | -1,06 |
| TTM (Q1) | -1,67 | -1,06 | -3,45 |
Nilai dalam Rupiah per saham. Meski laba bersih basis TTM sempat berbalik positif seperti terlihat di tabel sebelumnya, EPS TTM (Q1) 2026 masih tercatat -1,67 — mengindikasikan bahwa perbaikan laba tersebut belum cukup besar dibanding jumlah saham beredar yang mencapai 3,97 miliar lembar, atau turut dipengaruhi oleh komponen non-operasional yang membuat hasil per periode berfluktuasi tajam. Ini konsisten dengan rasio PER dan Earnings Yield yang masih negatif pada bagian valuasi di atas.
Bagaimana Tren Pendapatan LAPD?
| Periode | 2026 | 2025 | 2024 |
|---|---|---|---|
| Q1 | Rp2 M | Rp62 M | Rp46 M |
| Q2 | - | Rp77 M | Rp48 M |
| Q3 | - | Rp73 M | Rp74 M |
| Q4 | - | Rp19 M | Rp56 M |
| Annualised | Rp6 M | Rp230 M | Rp223 M |
| TTM (Q1) | Rp170 M | Rp230 M | Rp223 M |
M = Miliar Rupiah.
Bagian ini menjadi sorotan utama dari data LAPD: pendapatan kuartalan berjalan cukup stabil di kisaran Rp46–77 miliar sepanjang 2024–2025, namun pada Q1 2026 anjlok tajam menjadi hanya Rp2 miliar. Meski demikian, angka TTM (Q1) 2026 masih tercatat Rp170 miliar — lebih tinggi dari kontribusi Q1 itu sendiri — karena masih menghitung kontribusi kuartal-kuartal sebelumnya yang lebih besar. Penurunan drastis pendapatan kuartal terbaru ini sejalan dengan masa transisi kepemilikan dan arah bisnis Perseroan pasca-akuisisi oleh pengendali baru yang berencana mengarahkan LAPD ke sektor pertambangan, logistik, dan energi, sehingga bisnis distribusi FMCG yang selama ini menjadi tulang punggung pendapatan kemungkinan sedang direstrukturisasi.
Rangkuman untuk Pemula
Menyimpulkan seluruh data di atas: LAPD saat ini adalah emiten dalam masa transisi bisnis yang cukup signifikan. Rasio valuasi berbasis laba dan EBITDA mayoritas masih negatif, mencerminkan riwayat kerugian dan indikasi ekuitas negatif dari sisi neraca — sesuatu yang perlu dicermati serius oleh investor pemula. Di sisi lain, tren laba bersih basis TTM sempat membaik menjadi positif di awal 2026, meski EPS-nya masih minus.
Sorotan terbesar ada pada pendapatan kuartalan yang anjlok tajam di Q1 2026 dibanding pola tiga tahun sebelumnya, bertepatan dengan pergantian pengendali saham dan rencana perubahan arah bisnis ke sektor pertambangan dan energi. Kombinasi antara riwayat keuangan yang masih rapuh dan potensi arah bisnis baru yang belum terealisasi sepenuhnya membuat LAPD tergolong saham dengan profil risiko tinggi dan perlu dipantau ketat dari sisi realisasi rencana bisnisnya, bukan sekadar dari pergerakan harga jangka pendek.
0Komentar