Analisis fundamental saham IATA dengan grafik harga saham, laporan keuangan, dan kalkulator di meja kerja
Analisa Saham · Data Fundamental

Buat kamu yang baru mulai belajar baca laporan keuangan: berikut potret lengkap kondisi fundamental terbaru saham IATA, dijelaskan pelan-pelan tanpa istilah yang bikin pusing.

Sebelum masuk ke angka-angka, ada satu hal yang perlu digarisbawahi di awal: saham IATA punya cerita yang agak unik. Di satu sisi, harganya sudah melesat sangat jauh dalam beberapa tahun terakhir. Di sisi lain, kinerja keuangan terbarunya justru menunjukkan tren menurun. Dua fakta yang bertolak belakang ini penting dipahami sebelum kamu menyimpulkan apa pun tentang saham ini.

Sekilas soal Ukuran Perusahaan

Sebelum bicara untung-rugi, ada baiknya kita kenalan dulu dengan "ukuran" perusahaannya lewat kapitalisasi pasar (market cap) — yaitu nilai seluruh saham beredar dikalikan harga pasarnya saat ini.

Rp4,35 TMarket Cap
Rp5,54 TEnterprise Value
31,28 MSaham Beredar (lembar)
44,09%Free Float
Enterprise Value = Market Cap + Utang – Kas, gambaran nilai perusahaan jika seluruh utang & kasnya diperhitungkan.

Berapa "Mahal" Harga Sahamnya Sekarang?

Salah satu cara paling umum menilai mahal-tidaknya sebuah saham adalah lewat Price to Earnings Ratio (PER) — perbandingan harga saham dengan laba bersih per lembarnya. Semakin tinggi angkanya, semakin besar ekspektasi pasar terhadap pertumbuhan perusahaan ke depan (atau, laba yang dihasilkan saat ini memang sedang kecil).

Metrik ValuasiNilai
PER (Annualised)131,44xSangat Tinggi
PER (TTM)83,21xSangat Tinggi
PER Median IHSG (TTM)7,93xAcuan Pasar
Price to Book Value (PBV)1,84xModerat
Price to Sales (PSR)3,53xTinggi
EV/EBITDA21,00xTinggi
Earnings Yield (TTM)1,20%Rendah

Yang paling mencolok: PER IATA (131,44x untuk annualised, 83,21x untuk TTM) jauh di atas median PER seluruh saham di IHSG yang cuma 7,93x. Artinya, secara valuasi, pasar menghargai saham ini jauh lebih premium dibanding rata-rata saham lain. Ini bukan otomatis berarti "buruk" atau "bagus" — tapi penting diketahui bahwa membeli di valuasi setinggi ini biasanya berarti kamu ikut membeli ekspektasi pertumbuhan besar di masa depan, bukan sekadar kinerja hari ini.

Satu catatan tambahan: PEG Ratio (rasio valuasi terhadap pertumbuhan laba) tercatat negatif, yakni -5,10 (annualised) dan -1,94 (3 tahun). Angka negatif di sini bukan pertanda bagus — itu muncul karena pertumbuhan labanya sendiri sedang negatif (menurun), bukan karena valuasinya murah.

Bagaimana Kinerja Keuangannya 12 Bulan Terakhir?

Sekarang kita masuk ke laporan laba rugi (income statement) dalam 12 bulan terakhir (TTM/Trailing Twelve Months) — cara membaca kesehatan bisnis dari pendapatan sampai laba bersih yang benar-benar dikantongi.

Ringkasan Laba Rugi (TTM)
Pendapatan (Revenue)
Rp1,23 T
Laba Kotor
Rp542 M
EBITDA
Rp265 M
Laba Bersih
Rp52 M

Dari Rp1,23 triliun pendapatan, yang benar-benar tersisa sebagai laba bersih hanya sekitar Rp52 miliar — setara margin laba bersih sekitar 4,16% pada kuartal terakhir. Marginnya menyusut cukup drastis begitu melewati pos-pos biaya operasional dan lainnya.

Tren yang Perlu Diwaspadai: Laba Bersih Terus Menurun

Ini bagian yang paling penting untuk pemula pahami: performa kuartalan IATA dalam tiga tahun terakhir menunjukkan tren menurun yang cukup konsisten.

Tren Laba Bersih per Kuartal (Miliar Rupiah)
2024 2025 2026
Kuartal 1
56 M
27 M
8 M
Kuartal 2
85 M
63 M
9 M

Baik di Kuartal 1 maupun Kuartal 2, laba bersih IATA terus menyusut tiap tahun — dari puluhan miliar di 2024, ke belasan-puluhan di 2025, hingga tinggal satu digit miliar di 2026. Ini sejalan dengan data pertumbuhan (year-on-year) berikut:

Pertumbuhan Pendapatan (YoY)
-28,42%
Pertumbuhan Laba Kotor (YoY)
-86,17%
Pertumbuhan Laba Bersih (YoY)
-86,45%

Ketiganya kompak minus, dengan penurunan laba kotor dan laba bersih yang sangat tajam, jauh lebih dalam dibanding penurunan pendapatannya. Ini biasanya menandakan tekanan pada biaya produksi atau operasional, bukan cuma soal penjualan yang melambat.

Bagaimana Kondisi Neraca dan Utangnya?

Neraca Keuangan (Kuartal Terakhir)
Total Aset
Rp4,17 T
Total Liabilitas
Rp1,82 T
Total Ekuitas
Rp2,35 T
Total Utang Berbunga
Rp1,23 T
Kas & Setara Kas
Rp22 M
Modal Kerja
-Rp282 M

Dari sisi aset dan modal, komposisinya masih terlihat wajar: aset (Rp4,17 T) jauh lebih besar dari liabilitas (Rp1,82 T), dengan ekuitas positif Rp2,35 triliun. Namun ada dua sinyal yang perlu diperhatikan pemula: kas perusahaan tergolong tipis (hanya Rp22 miliar dibanding total aset Rp4,17 triliun), dan modal kerjanya negatif Rp282 miliar — artinya kewajiban jangka pendek lebih besar dari aset jangka pendek yang dimiliki.

Rasio Solvabilitas & LikuiditasNilai
Current Ratio0,77xDi Bawah 1
Quick Ratio0,23xSangat Rendah
Debt to Equity Ratio0,52xModerat
Interest Coverage (TTM)2,38xTipis
Altman Z-Score (Modified)1,33Zona Waspada

Untuk pemula, dua istilah ini penting: Current Ratio dan Quick Ratio mengukur kemampuan perusahaan membayar kewajiban jangka pendek. Angka di bawah 1 (seperti 0,77x dan 0,23x di sini) berarti aset lancar yang mudah dicairkan belum sepenuhnya menutup kewajiban jangka pendeknya. Sementara Altman Z-Score adalah indikator gabungan yang biasa dipakai memperkirakan risiko kesulitan keuangan perusahaan — secara umum, skor di bawah 1,8 masuk "zona waspada", 1,8–3 "zona abu-abu", dan di atas 3 "zona aman". Skor IATA saat ini di 1,33 sehingga berada di zona yang perlu dicermati lebih lanjut, meski satu angka ini tidak boleh dibaca sebagai vonis akhir tanpa melihat konteks bisnis lainnya.

Bagaimana dengan Arus Kasnya?

Arus Kas (TTM)
Kas dari Operasi
Rp154 M
Kas dari Investasi
-Rp267 M
Kas dari Pendanaan
Rp83 M
Belanja Modal (Capex)
-Rp115 M
Free Cash Flow
Rp39 M

Kabar baiknya, kas dari kegiatan operasional masih positif (Rp154 miliar), menandakan bisnis inti perusahaan masih menghasilkan kas. Arus kas investasi yang minus Rp267 miliar biasanya mencerminkan belanja untuk aset atau ekspansi. Setelah dikurangi belanja modal, Free Cash Flow (kas bebas yang benar-benar tersisa) masih positif tipis di Rp39 miliar.

Seberapa Efektif Manajemen Mengelola Modalnya?

Efektivitas ManajemenNilai
Return on Equity (ROE)2,21%
Return on Assets (ROA)1,25%
Return on Invested Capital (ROIC)5,32%
Cash Conversion Cycle132 hari
Days Inventory Outstanding328 hari

ROE dan ROA adalah cara mengukur seberapa efisien perusahaan menghasilkan laba dari modal (ekuitas) dan aset yang dimilikinya. Angka 2,21% dan 1,25% di sini tergolong tipis, sejalan dengan tren laba bersih yang sedang menurun. Satu hal menarik lainnya: Days Inventory Outstanding mencapai 328 hari — artinya rata-rata persediaan barang membutuhkan waktu hampir 11 bulan sebelum terjual atau terpakai, yang cukup lama dan bisa memengaruhi efisiensi arus kas perusahaan.

Bagaimana Peringkat IATA Dibanding Saham Lain?

Peringkat Persentil (0–100%, semakin tinggi semakin unggul di kategori tsb.)
Relative Strength Rating
96%
Rank Earnings Yield
95%
Rank Market Cap
74%
Rank Near 52 Weeks High
65%
Rank Price/Book (P/B)
38%
Rank Price/Sales (P/S)
30%
Rank PER (TTM)
14%

Piotroski F-Score IATA tercatat 5,00 dari skala 0–9 — skor pertengahan yang menandakan kualitas fundamental "cukup", tidak istimewa buruk maupun sangat kuat. Yang menonjol justru dari sisi momentum harga: Relative Strength Rating 96% menunjukkan saham ini bergerak jauh lebih kuat dibanding mayoritas saham lain belakangan ini — sejalan dengan lonjakan harga jangka panjangnya (lihat bagian berikutnya).

Bagaimana Performa Harganya Selama Ini?

PeriodePerubahan Harga
1 Hari-2,80%
1 Minggu+13,01%
1 Bulan+20,87%
3 Bulan+157,41%
6 Bulan+90,41%
Year to Date (YTD)-3,47%
1 Tahun+124,19%
3 Tahun+135,59%
5 Tahun+178,00%
10 Tahun+167,31%

Inilah bagian yang membuat cerita IATA menarik sekaligus perlu kehati-hatian ekstra: dalam 3 bulan terakhir saja harganya melonjak +157,41%, dan dalam 5 tahun terakhir totalnya +178,00%. Tapi dalam sehari terakhir dan sepanjang tahun berjalan (YTD), harganya justru sedang terkoreksi. Kombinasi "kenaikan jangka panjang yang eksplosif" dengan "koreksi jangka pendek" dan "fundamental kuartalan yang melemah" adalah pola yang layak dicermati dengan saksama, bukan ditelan mentah-mentah sebagai sinyal beli atau jual.

Bagaimana dengan Dividen?

Sejauh data terakhir, IATA belum membagikan dividen — baik dividen tahun berjalan, dividen TTM, payout ratio, maupun dividend yield semuanya tercatat kosong. Ini wajar terjadi pada perusahaan yang sedang fokus pada pertumbuhan atau tengah menghadapi tekanan profitabilitas seperti yang terlihat pada data laba bersihnya.

Rangkuman untuk Pemula

Kalau harus dirangkum dalam beberapa poin sederhana:

Pertama, valuasi IATA saat ini tergolong sangat premium dibanding rata-rata pasar (PER jauh di atas median IHSG). Kedua, kinerja keuangan kuartalan terbarunya menunjukkan tren penurunan pendapatan dan laba yang cukup dalam secara tahunan. Ketiga, dari sisi likuiditas jangka pendek dan skor risiko keuangan, ada beberapa indikator yang masuk kategori perlu diwaspadai. Keempat, di sisi lain, performa harga sahamnya dalam beberapa tahun terakhir sangat kuat, tercermin dari peringkat momentum yang tinggi.

Kombinasi semua data ini menunjukkan bahwa saham IATA punya karakter yang cukup spekulatif dan volatil. Untuk pemula, ini adalah contoh baik untuk belajar bahwa harga saham yang naik tinggi tidak selalu berjalan seiring dengan membaiknya fundamental perusahaan — keduanya perlu dibaca sebagai dua lapisan informasi yang berbeda. Untuk memantau perkembangan harga, grafik, serta berita terbaru seputar emiten ini secara berkelanjutan, kamu bisa mengunjungi halaman khusus Saham IATA: Harga, Grafik, Berita & Analisa.

Disclaimer: Artikel ini disusun untuk tujuan informasi dan edukasi pasar modal berdasarkan data fundamental yang tersedia, bukan merupakan rekomendasi, ajakan, maupun nasihat untuk membeli atau menjual saham IATA. Data keuangan dapat berubah seiring rilis laporan baru. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca; pertimbangkan profil risiko dan konsultasikan dengan penasihat keuangan berizin sebelum mengambil keputusan.