Bedah Detail BACH yang di bekingi djarum grup

PT Bach Multi Global Tbk (BACH) akan melaksanakan penawaran umum perdana saham (IPO) dengan menawarkan 615 juta saham baru atau setara 15,06% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO.

Yang membuat IPO ini menarik bukan hanya pertumbuhan kinerja keuangannya yang agresif, tetapi juga keterkaitannya dengan Grup Djarum melalui PT Global Telekomunikasi Prima (GTP), anak usaha tidak langsung PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR).

Dalam tiga tahun terakhir, BACH berhasil meningkatkan pendapatan dari Rp1 triliun menjadi Rp1,73 triliun, sementara laba bersih melonjak hampir dua kali lipat pada FY2025. Pertanyaannya, apakah pertumbuhan tersebut cukup menarik untuk menjadikan BACH sebagai investasi jangka panjang?


Fakta Penting IPO BACH

FaktorKeterangan
Emiten        PT Bach Multi Global Tbk
Kode Saham        BACH
Sektor        Infrastruktur
Bisnis Utama        Genset dan Infrastruktur Telekomunikasi
Saham Ditawarkan        615 Juta Saham
Porsi IPO        15,06%
Harga IPO        Rp400 – Rp500
Dana IPO        Rp246 – Rp307,5 Miliar
Market Cap Pasca IPO        Rp1,6 – Rp2,0 Triliun
PER FY2025        10,5x – 13,1x
PBV FY2025        2,1x – 2,4x

Apa Bisnis Utama BACH?

BACH memiliki dua sumber pendapatan utama:

1. Bisnis Genset

Meliputi:

  • Penjualan genset

  • Penyewaan genset

  • Layanan pendukung genset

  • Proyek pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD)

Segmen ini menjadi kontributor terbesar dengan porsi sekitar 56% dari total pendapatan FY2025.


2. Infrastruktur Telekomunikasi

Meliputi:

  • Penyediaan infrastruktur telekomunikasi

  • Dukungan jaringan telekomunikasi

Kontribusinya mencapai sekitar 44% dari total pendapatan.

Kombinasi kedua segmen ini membuat BACH memiliki diversifikasi bisnis yang relatif lebih baik dibanding perusahaan yang hanya bergantung pada satu sumber pendapatan.

Baca Juga : Detail IPO INACO, Buy or Bye?


Mengapa IPO BACH Menarik Perhatian Investor?

Salah satu faktor yang paling menarik adalah keterlibatan Grup Djarum.

Berdasarkan prospektus, PT Global Telekomunikasi Prima (GTP) berencana meningkatkan kepemilikan hingga menjadi pemegang saham pengendali pasca IPO.

Jika transaksi tersebut terealisasi, kepemilikan GTP akan meningkat menjadi 51%.

Bagi investor, keberadaan Grup Djarum dapat menjadi sinyal positif karena grup ini memiliki rekam jejak panjang dalam membangun bisnis berskala besar melalui:

  • Perbankan

  • Telekomunikasi

  • Teknologi

  • Infrastruktur digital

Meski demikian, investor tetap perlu menilai kualitas bisnis BACH secara independen dan tidak hanya bergantung pada nama besar grup yang berada di belakangnya.


Kinerja Keuangan Tumbuh Agresif

Pendapatan Naik 73% Dalam Dua Tahun

Pendapatan perusahaan menunjukkan tren pertumbuhan yang sangat kuat.

TahunPendapatan
FY2023Rp1,00 Triliun
FY2024Rp1,24 Triliun
FY2025Rp1,73 Triliun

Dalam dua tahun terakhir, pendapatan meningkat sekitar 73%.

Pertumbuhan ini menunjukkan bahwa permintaan terhadap layanan genset dan infrastruktur telekomunikasi masih cukup tinggi.


Laba Bersih Melonjak Hampir Dua Kali Lipat

Tidak hanya pendapatan yang tumbuh.

Laba bersih FY2025 meningkat sekitar 97,5% dibanding tahun sebelumnya menjadi Rp115,5 miliar.

Kenaikan laba yang lebih cepat dibanding pendapatan mengindikasikan adanya peningkatan efisiensi operasional dan perbaikan margin keuntungan.

Bagi investor fundamental, hal ini merupakan salah satu indikator kualitas pertumbuhan yang cukup baik.


Prospek Bisnis BACH

Pasar Genset Masih Bertumbuh

Kebutuhan listrik cadangan masih menjadi kebutuhan penting bagi:

  • Kawasan industri

  • Data center

  • Rumah sakit

  • Infrastruktur publik

  • Sektor energi

Beberapa proyeksi industri memperkirakan pasar genset global masih mampu tumbuh dengan CAGR sekitar 9% hingga 2035.

Jika BACH mampu mempertahankan pangsa pasar dan ekspansi bisnisnya, segmen ini masih memiliki ruang pertumbuhan yang menarik.


Menikmati Tren Pertumbuhan Data Center

Pertumbuhan konsumsi data di Indonesia mendorong kebutuhan:

  • Menara telekomunikasi

  • Infrastruktur jaringan

  • Data center

  • Sistem kelistrikan pendukung

Menariknya, dua bisnis utama BACH berada tepat di tengah tren tersebut.

Telekomunikasi membutuhkan listrik cadangan, sementara data center membutuhkan pasokan listrik yang stabil.

Hal ini berpotensi menciptakan peluang pertumbuhan jangka panjang.


Valuasi IPO BACH

Berikut simulasi valuasi berdasarkan rentang harga IPO:

IndikatorHarga Rp400Harga Rp500
Market Cap    Rp1,6 TriliunRp2,0 Triliun
PER FY2025    10,5x13,1x
PBV FY2025    2,1x2,4x

Secara umum, PER di kisaran 10–13 kali masih terlihat relatif moderat apabila perusahaan mampu mempertahankan pertumbuhan laba seperti beberapa tahun terakhir.

Namun investor perlu mengingat bahwa valuasi murah hanya menarik jika kualitas pertumbuhan bisnis dapat dipertahankan.


Penggunaan Dana IPO

Pelunasan Utang

Sekitar 29,9% dana IPO akan digunakan untuk melunasi sebagian pinjaman bank.

Dampak positifnya:

  • Beban bunga berpotensi turun.

  • Struktur keuangan menjadi lebih sehat.


Modal Kerja

Sekitar 70,1% dana IPO akan digunakan sebagai modal kerja.

Mayoritas dana akan digunakan untuk pengadaan genset baru yang nantinya disewakan atau dijual kepada pelanggan.

Strategi ini menunjukkan bahwa dana IPO sebagian besar digunakan untuk mendukung pertumbuhan bisnis.


Risiko yang Perlu Diperhatikan

Risiko Siklus Infrastruktur

Permintaan infrastruktur telekomunikasi dapat dipengaruhi oleh siklus belanja operator.

Risiko Modal Kerja

Bisnis genset membutuhkan investasi modal yang cukup besar.

Risiko Pertumbuhan Pasca IPO

Tantangan terbesar adalah mempertahankan pertumbuhan tinggi setelah menjadi perusahaan publik.

Risiko Eksekusi

Pertumbuhan agresif memerlukan kemampuan manajemen dalam menjaga kualitas proyek dan profitabilitas.


Skenario Investasi

Skenario Optimistis

Sinergi dengan Grup Djarum berjalan baik, permintaan genset dan telekomunikasi meningkat, serta pertumbuhan laba berlanjut.

Skenario Moderat

Pertumbuhan tetap berjalan namun melambat ke level yang lebih normal setelah IPO.

Skenario Pesimistis

Belanja infrastruktur melambat sehingga pertumbuhan pendapatan dan laba tidak secepat beberapa tahun terakhir.


Apakah IPO BACH Menarik?

Dari sudut pandang investor fundamental, BACH menawarkan beberapa faktor menarik:

✅ Pertumbuhan pendapatan yang agresif

✅ Laba hampir dua kali lipat dalam setahun

✅ Eksposur pada dua sektor yang masih berkembang

✅ Potensi sinergi dengan ekosistem Grup Djarum

✅ Valuasi IPO yang relatif moderat

Namun investor tetap perlu memperhatikan keberlanjutan pertumbuhan setelah IPO serta kebutuhan modal kerja yang cukup besar pada bisnis genset.

Jika pertumbuhan laba dapat dipertahankan dalam beberapa tahun ke depan, IPO BACH layak masuk watchlist investor yang mencari saham bertema growth dengan valuasi yang masih masuk akal.


FAQ

Apa bisnis utama BACH?

BACH bergerak di bisnis genset dan infrastruktur telekomunikasi.

Kapan saham BACH listing di BEI?

Saham BACH dijadwalkan tercatat di Bursa Efek Indonesia pada 7 Juli 2026.

Berapa harga IPO BACH?

Rentang harga IPO berada pada Rp400 hingga Rp500 per saham.

Siapa pemegang saham utama BACH?

Pasca IPO, PT Global Telekomunikasi Prima berpotensi menjadi pemegang saham pengendali dengan kepemilikan 51%.

Apakah BACH berencana membagikan dividen?

Ya, perusahaan berencana membagikan dividen hingga maksimal 50% laba bersih mulai tahun buku 2026.

Apakah valuasi IPO BACH mahal?

PER FY2025 berada di kisaran 10,5x–13,1x yang masih relatif moderat dibanding pertumbuhan laba perusahaan.

Apa risiko utama investasi di BACH?

Risiko utama berasal dari siklus belanja infrastruktur, kebutuhan modal kerja besar, dan kemampuan mempertahankan pertumbuhan pasca IPO.

Apakah IPO BACH layak dipertimbangkan?

Layak masuk radar investor growth, namun tetap perlu memperhatikan risiko dan perkembangan kinerja pasca IPO.


Disclaimer: Artikel ini disusun untuk tujuan edukasi dan informasi. Bukan merupakan ajakan membeli atau menjual saham BACH. Investor wajib melakukan riset mandiri dan menyesuaikan keputusan investasi dengan profil risiko masing-masing.