ANALISA SAHAM INDF Pasca Laporan Keuangan Kuartal II 2025

Ketika banyak orang melihat Indofood CBP (ICBP) sebagai wajah utama dari grup Indofood, ada satu bagian bisnis besar yang sering kali luput dari perhatian investor pemula: agribisnis. Padahal, justru di sinilah letak kekuatan sesungguhnya dari PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF).

Laporan keuangan kuartal II-2025 (2Q25) kembali membuktikan hal itu. INDF mencatatkan laba bersih Rp3,1 triliun, naik 2,2 kali lipat (YoY) dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Secara akumulasi semester I-2025, laba bersih mencapai Rp5,8 triliun, atau tumbuh 51% YoY. Angka ini jauh melampaui ekspektasi pasar, karena sudah mencapai 53% dari estimasi konsensus setahun penuh, dan sekitar 47% dari estimasi Pareto Saham, lebih tinggi dari rata-rata lima tahun terakhir (45%).

Singkatnya, INDF lagi-lagi memberikan kejutan positif. Tapi di balik angka itu, mari kita bedah lebih dalam: apa sih sebenarnya yang membuat INDF begitu perkasa di tengah ketidakpastian ekonomi global?


📈 Kinerja INDF vs ICBP: Siapa yang Lebih Tangguh?

Sebagai investor pemula, mungkin pertanyaan pertama Anda adalah:

“Kalau ICBP dan INDF satu grup, kenapa hasilnya bisa beda jauh?”

Jawabannya terletak pada sumber pertumbuhan.

  • ICBP lebih bergantung pada bisnis consumer branded products (CBP), seperti Indomie, susu, dan makanan ringan.

  • INDF lebih luas cakupannya: ada CBP, ada Bogasari (tepung terigu), ada distribusi, dan yang paling penting: agribisnis (perkebunan sawit).

Nah, di kuartal II-2025, ternyata agribisnis INDF jadi penyelamat. Mari lihat angkanya:

  • Penjualan 2Q25 naik 7% YoY.

  • Segmen agribisnis melesat 39% YoY.

  • CBP tumbuh tipis 2% YoY.

  • Distribusi naik 10% YoY.

  • Bogasari stagnan (meski volume tepung terigu naik 4% YoY, tapi harga jual produk sampingan turun).

Artinya, tanpa agribisnis, pertumbuhan INDF mungkin akan serupa dengan ICBP yang cenderung lambat.

Di sinilah keunggulan INDF: diversifikasi bisnis. Saat bisnis mi instan menghadapi tekanan biaya bahan baku, agribisnis justru menguat berkat harga CPO (crude palm oil/minyak sawit mentah) dan inti sawit yang naik, ditambah produksi yang lebih tinggi.


💰 Laba Bersih: Ada Bantuan dari Valuta Asing

Kalau kita kupas lebih dalam, laba bersih INDF bukan hanya hasil operasional. Ada faktor tambahan: keuntungan dari valuta asing (forex gain). Sama seperti ICBP, pelemahan rupiah terhadap dolar AS justru menguntungkan, karena ada komponen keuangan yang tercatat positif.

Namun, meskipun kita sisihkan pengaruh forex, laba inti INDF tetap naik. Data menunjukkan:

  • Laba inti 2Q25 tumbuh 2% YoY.

  • Secara semester I-2025, laba inti juga naik tipis, tetapi tetap berada di atas konsensus (52%) dan sejalan dengan estimasi pareto saham(46%).

Ini artinya: secara operasional, bisnis inti INDF memang tetap sehat, tidak hanya bergantung pada faktor non-operasional seperti forex.


📊 Margin: Di Balik Pertumbuhan Ada Tekanan

Kabar baiknya, penjualan dan laba naik. Tapi kabar kurang enaknya, margin mengalami tekanan.

Mari kita lihat satu per satu:

  • Gross Profit Margin (GPM): turun ke 31,6% pada 2Q25, atau melemah 2,9% poin QoQ dan 3,5% poin YoY.

  • EBIT Margin: menyusut ke 17,2% dari 19,8% (1Q25) dan 19,2% (2Q24).

Kenapa bisa turun?

  1. CBP kena tekanan biaya bahan baku, terutama gandum.

  2. Bogasari masih berjuang karena harga produk sampingan turun, meskipun volume tepung terigu naik.

  3. Agribisnis masih untung, tapi margin-nya juga sedikit tertekan secara kuartalan.

Namun ada hal menarik: margin EBIT Bogasari masih tercatat 9,1% di 2Q25, lebih rendah dari tahun lalu, tetapi tetap jauh lebih tinggi dibanding benchmark cost-plus perusahaan sebesar 5-7%. Artinya, meski turun, bisnis Bogasari tetap efisien.

Kinerja 2Q25 YoY 1H25 YoY Keterangan
Laba Bersih Rp3,1 triliun +2,2x Rp5,8 triliun +51% Sudah capai 53% dari estimasi konsensus FY25
Laba Inti +2% +2% Di atas konsensus (52%), sejalan Pareto Saham(46%)
Pendapatan Naik 7% +7% Didukung pertumbuhan agribisnis
└ Agribisnis +39% Harga CPO & produksi lebih tinggi
└ CBP +2% Pertumbuhan tipis
└ Distribusi +10% Stabil mendukung CBP
└ Bogasari Stagnan (volume +4%) ASP produk sampingan turun
Gross Profit Margin (GPM) 31,6% -3,5% poin Turun dari 35,1% (2Q24)
EBIT Margin 17,2% Turun dari 19,2% 18,6% (rata-rata) Tekanan biaya bahan baku
Margin EBIT Bogasari 9,1% Turun YoY Masih di atas benchmark 5–7%

Tabel Ringkasan Fundamental Kinerja Keuangan Saham INDF

🌾 Bogasari dan Kesepakatan Impor Gandum AS

Ada satu isu besar yang ramai diperbincangkan: perjanjian Indonesia-AS soal impor gandum.

Pemerintah Indonesia sepakat meningkatkan impor gandum AS menjadi 800.000 ton pada 2025F, lalu naik lagi ke 1 juta ton mulai 2026F. Sebagai perbandingan: rata-rata impor sebelumnya hanya sekitar 500.000 ton.

Bagi Bogasari, angka ini bukan sesuatu yang benar-benar baru. Tahun 2017–2020, impor gandum juga pernah tembus 1 juta ton. Turunnya impor beberapa tahun terakhir (2021–2024) lebih karena masalah pasokan akibat kekeringan di AS, bukan karena permintaan domestik menurun.

Sekarang, pasokan AS mulai pulih, sehingga impor naik lagi. Namun, jangan lupa: harga gandum global masih relatif rendah karena stok berlimpah, ditambah panen di belahan bumi utara, serta penguatan dolar AS.

Jadi, meski ada peningkatan volume impor, dampaknya bagi Bogasari kemungkinan tidak terlalu signifikan. Yang lebih menentukan justru harga gandum di pasar global, bukan hanya volume impor dari AS.


🔮 Prospek INDF ke Depan

Lalu, apa artinya semua ini bagi investor?

Analis memperkirakan:

  • Penjualan INDF 2025F akan tumbuh 5% YoY, lebih tinggi dibanding ICBP yang hanya sekitar 3% YoY.

  • GPM diperkirakan naik ke 33,5% untuk FY25, lebih tinggi dari posisi semester I-2025 sebesar 33,1%.

  • EBIT Margin juga diproyeksikan menguat ke 19,1%, naik dari 18,6% pada 1H25.

  • Laba inti INDF 2025F diperkirakan tumbuh 8% YoY, kontras dengan proyeksi laba ICBP yang justru turun 8% YoY.

Namun, meski outlook jangka menengah positif, manajemen tetap konservatif. Setelah melihat hasil 2Q25, proyeksi laba bersih 2025–2027F sedikit direvisi turun sekitar 0,4%-3%, lebih karena asumsi penjualan dan margin yang lebih realistis.


🎯 Apa yang Bisa Dipetik Investor Pemula?

Kalau Anda baru belajar investasi saham, mari saya sederhanakan:

  • INDF adalah versi “lebih lengkap” dari ICBP.
    Kalau ICBP ibarat mobil keluarga yang andal untuk harian, maka INDF itu SUV tangguh yang bisa dipakai di jalan tol maupun jalan tanah. Agribisnis membuat INDF lebih tahan banting.

  • Agribisnis adalah kunci.
    Selama harga CPO masih dalam tren naik, INDF akan tetap diuntungkan.

  • Margin masih fluktuatif.
    Meski prospek positif, tekanan biaya bahan baku tetap bisa menjadi risiko, terutama bagi CBP dan Bogasari.

  • Diversifikasi INDF = Safety Net.
    Kalau satu bisnis sedang tertekan (misalnya mi instan), ada bisnis lain yang menopang (agribisnis).

Bagi investor pemula, memegang INDF bisa lebih aman dibanding ICBP yang lebih fokus ke satu sektor saja.


Insight Akhir

Kinerja 2Q25 menunjukkan bahwa INDF masih “raja makanan dan agribisnis” di Indonesia. Dengan laba bersih Rp5,8 triliun dalam enam bulan pertama 2025 (+51% YoY), INDF bukan hanya melampaui ekspektasi pasar, tetapi juga menegaskan posisinya sebagai perusahaan dengan diversifikasi bisnis yang solid.

Agribisnis jadi mesin utama, margin memang agak tertekan, tapi prospek 2025 tetap cerah dengan potensi pertumbuhan laba inti +8% YoY.

Namun, seperti biasa, investasi saham bukan hanya soal membaca laporan keuangan, tapi juga tahu kapan masuk dan kapan ambil untung.

👉 Kalau Anda ingin tahu seberapa besar potensi take profit dari Saham INDF, silakan gabung ke member Pareto Saham untuk mendapatkan analisa lebih detail dan strategi timing yang tepat. Hubungi admin di whatsapp 081226750793


📌 Footnote:

  • Data laporan keuangan dan proyeksi INDF 2Q25 bersumber dari konsensus analis dan Pareto Saham Research (2025).

  • Informasi impor gandum AS bersumber dari kebijakan pemerintah RI dan data perdagangan internasional (2025).