IHSG mendadak anjlok lebih dari 2% hari ini karena kombinasi sentimen global yang memburuk, tekanan nilai tukar rupiah, dan aksi jual panik yang terjadi secara merata di pasar saham. Ketiga faktor ini datang bersamaan dan memicu pelepasan saham secara cepat oleh investor.
Tekanan terbesar berasal dari risk-off global menyusul meningkatnya ketegangan geopolitik Timur Tengah setelah adanya ancaman lanjutan Amerika Serikat terhadap Iran. Situasi tersebut membuat investor global menghindari aset berisiko dan beralih ke instrumen yang lebih aman, sehingga pasar saham di berbagai negara, termasuk Indonesia, ikut tertekan.
Di saat yang sama, pelemahan rupiah turut memperburuk sentimen. Outlook USD/IDR yang berpotensi berada di atas Rp16.800 pada 2026 meningkatkan kekhawatiran terjadinya capital outflow, khususnya dari investor asing yang selama ini menjadi penopang likuiditas pasar saham domestik.
Tekanan kemudian diperparah oleh sell-off yang terjadi secara luas. Mayoritas saham dari berbagai sektor kompak melemah, menandakan bahwa penurunan kali ini bukan koreksi sehat, melainkan lebih dipicu oleh panic-driven selling.
Anjloknya IHSG tidak terjadi secara sporadis. Sejumlah analis menilai penurunan hari ini merupakan akumulasi sentimen negatif global dan domestik yang datang secara bersamaan, sehingga memicu aksi jual berbasis kepanikan.
IHSG Anjlok >2%, Kenapa?
Pelemahan IHSG hari ini dipicu oleh kombinasi tiga tekanan utama yang bekerja secara simultan.
Pertama, risk-off global meningkat tajam.
Ketegangan geopolitik kembali memanas setelah adanya ancaman lanjutan dari Amerika Serikat terhadap Iran. Situasi ini meningkatkan risiko konflik di Timur Tengah dan mendorong investor global menghindari aset berisiko. Pasar saham dunia langsung masuk ke fase risk-off, dan Indonesia tidak luput dari dampaknya.
Kedua, tekanan pada nilai tukar rupiah.
Outlook nilai tukar USD/IDR untuk tahun 2026 yang berpotensi berada di atas Rp16.800 memunculkan kekhawatiran baru, terutama terkait potensi capital outflow. Tekanan rupiah ini menjadi sentimen negatif tambahan bagi investor asing, yang cenderung mengurangi eksposur di pasar saham domestik.
Ketiga, sell-off terjadi secara merata.
Berbeda dengan koreksi sehat yang biasanya hanya menekan saham-saham tertentu, penurunan kali ini terjadi hampir di seluruh sektor. Saham perbankan, konsumer, hingga infrastruktur kompak melemah. Kondisi ini menandakan bahwa tekanan pasar bukan sekadar profit taking, melainkan sudah mengarah pada panic-driven selling.
Pandangan Teknikal: Koreksi, Tapi Belum Ubah Arah Tren
Meski IHSG turun sekitar ±2%, analis teknikal menilai tren jangka menengah masih cenderung bullish. Koreksi kali ini lebih mencerminkan fase profit taking setelah indeks berada di area jenuh beli.
Level support krusial saat ini berada di kisaran 8.700–8.775. Selama IHSG mampu bertahan di area tersebut, peluang konsolidasi masih terbuka. Sejumlah indikator teknikal juga menunjukkan momentum mulai turun dari kondisi overbought, sehingga pasar masih membutuhkan waktu untuk menyeimbangkan kembali pergerakan harga.
Sentimen Pasar Masih Rentan
Pelaku pasar menilai tekanan IHSG ke depan masih sangat bergantung pada stabilitas global, khususnya perkembangan geopolitik dan arah kebijakan moneter negara maju. Selama ketidakpastian global masih tinggi dan rupiah berada di bawah tekanan, volatilitas diperkirakan tetap akan membayangi pergerakan IHSG.
Namun demikian, sejumlah analis mengingatkan bahwa koreksi tajam sering kali membuka peluang selektif, terutama pada saham-saham dengan fundamental kuat yang ikut terseret sentimen pasar.
Kesimpulan
-
IHSG anjlok lebih dari 2% secara tiba-tiba
-
Dipicu risk-off global, tekanan rupiah, dan sell-off merata
-
Secara teknikal masih bullish, namun butuh fase konsolidasi
-
Level kunci IHSG berada di 8.700–8.775
Pasar kini menanti sentimen lanjutan yang akan menentukan apakah koreksi ini hanya bersifat sementara atau berlanjut dalam jangka pendek.

0Komentar