Membaca Fundamental Saham MEJA

Memahami Fundamental Saham Meja, meski pendapatan PT Harta Djaya Karya Tbk (MEJA) tumbuh agresif hingga 36,9% pada semester I-2025, fundamental saham ini belum sepenuhnya solid karena laba bersih justru tertekan lebih dari 50% akibat penurunan margin dan kenaikan beban operasional. Namun di balik pelemahan laba, arus kas operasi yang kembali positif dan struktur utang yang rendah menunjukkan bisnis inti MEJA masih berjalan dan likuiditas relatif aman, membuat saham ini berada di persimpangan antara fase konsolidasi fundamental dan potensi pemulihan kinerja jika efisiensi dan margin mampu diperbaiki. 

Begini detail penjelasannya :

Bayangkan Kamu memiliki sebuah usaha renovasi rumah. Tahun ini, proyek yang masuk jauh lebih banyak dibanding tahun lalu. Klien bertambah, omzet naik, pekerjaan terlihat sibuk hampir setiap minggu. Namun, ketika laporan keuangan ditutup, laba bersih justru turun. Bukan karena proyek sepi, melainkan karena biaya tenaga kerja naik, material makin mahal, dan beberapa proyek masih belum ditagih sepenuhnya.

Kurang lebih, cerita inilah yang sedang dialami oleh PT Harta Djaya Karya Tbk (MEJA) pada laporan keuangan semester I-2025. (per artikel ini dibuat laporan terakhir yang terpublikasi periode tersebut)

Di permukaan, angka pendapatan MEJA terlihat menjanjikan. Namun jika dibedah lebih dalam, laporan keuangan ini menyimpan cerita yang jauh lebih menarik—dan penting—untuk dipahami oleh investor, khususnya pemula yang ingin belajar membaca fundamental saham berbasis logika, bukan sekadar harga.


Mengenal MEJA: Bisnis yang Tidak Sekadar Jual Furnitur

PT Harta Djaya Karya Tbk bukan sekadar perusahaan furnitur biasa. Model bisnis MEJA cukup kompleks dan bisa dikategorikan sebagai project-based company.

Ruang lingkup usahanya mencakup:

  • Desain interior dan eksterior

  • Konstruksi gedung (pendidikan, perkantoran, hunian)

  • Produksi dan perdagangan furnitur (kayu, logam, plastik, rotan/bambu)

Artinya, pendapatan MEJA tidak datang secara rutin bulanan seperti perusahaan ritel. Pendapatan sangat tergantung pada:

  1. Proyek yang sedang dikerjakan

  2. Tahapan penyelesaian proyek

  3. Waktu penagihan kepada klien

👉 Analogi sederhana:
Jika bisnis ritel seperti warung yang setiap hari dapat uang tunai, maka bisnis MEJA lebih seperti kontraktor rumah—uang besar datang bertahap, bukan langsung.


Pendapatan Tumbuh Kencang: Sinyal Permintaan Masih Kuat

Mari mulai dari kabar baiknya.

Pada semester I-2025, MEJA mencatatkan:

  • Pendapatan Rp31,07 miliar, naik dari Rp22,69 miliar di periode yang sama tahun sebelumnya

  • Pertumbuhan sekitar 36,9% year-on-year

Ini bukan angka kecil. Kenaikan pendapatan hampir 37% menunjukkan bahwa:

  • Proyek masih mengalir

  • Permintaan jasa desain, interior, dan konstruksi tetap ada

  • MEJA masih dipercaya klien untuk mengerjakan proyek bernilai cukup besar

Dari sudut pandang bisnis, ini adalah fondasi yang penting. Perusahaan tanpa pertumbuhan pendapatan ibarat mesin tanpa bensin—tidak akan ke mana-mana.

Namun, di dunia investasi, pertumbuhan omzet saja tidak cukup.


Ketika Margin Menyempit: Laba Bruto Mulai Tertekan

Di sinilah cerita mulai berubah.

Meskipun pendapatan naik, laba bruto MEJA justru:

  • Turun dari Rp8,80 miliar menjadi Rp7,79 miliar

Jika dihitung marginnya:

  • Margin laba bruto 1H24: ±38,8%

  • Margin laba bruto 1H25: ±25,1%

Penurunan margin ini cukup signifikan.

👉 Analogi sederhana:
Jika sebelumnya dari setiap Rp100 pendapatan, perusahaan bisa menyimpan Rp39 sebagai laba kotor, kini hanya tersisa Rp25. Sisanya habis untuk biaya bahan, subkontraktor, dan operasional proyek.

Ini memberi sinyal bahwa:

  • Biaya proyek meningkat

  • Harga jual mungkin lebih kompetitif

  • Atau MEJA mengambil proyek dengan margin lebih tipis demi menjaga pertumbuhan

Bagi investor, penurunan margin bukan dosa, tapi harus dipahami penyebab dan dampaknya ke laba bersih.


Beban Operasional: Bocor Halus yang Menggerus Laba

Tekanan tidak berhenti di laba bruto.

MEJA mencatat:

  • Beban umum dan administrasi Rp4,97 miliar, naik signifikan

  • Beban lain-lain Rp1,28 miliar

Akibatnya:

  • Laba sebelum pajak turun ke Rp1,65 miliar

  • Laba bersih anjlok menjadi Rp988,78 juta, turun 58,5% YoY

  • EPS turun dari Rp1,49 menjadi Rp0,52

👉 Analogi sederhana:
Ini seperti rumah tangga dengan gaji naik, tapi:

  • Biaya listrik naik

  • Biaya sekolah naik

  • Cicilan bertambah
    Akhirnya uang yang bisa ditabung justru berkurang.

Dari sisi investor, ini adalah peringatan penting:

Pertumbuhan pendapatan belum otomatis menjadi pertumbuhan laba.

BACA JUGA : SAHAM MEJA NAIK GILA-GILAAN TERNYATA KARENA INI


Neraca: Membaca Kualitas Bisnis dari Struktur Aset

Sekarang mari lihat neraca—bagian yang sering dilewati pemula, padahal sangat krusial.

Aset Kontrak: Proyek Ada, Uang Belum Masuk

MEJA mencatat:

  • Aset kontrak Rp20,32 miliar, naik dari Rp11,06 miliar

Aset kontrak berarti:

  • Proyek sudah dikerjakan

  • Pendapatan sudah diakui

  • Tapi belum ditagih atau belum dibayar klien

👉 Analogi sederhana:
Kamu sudah menyelesaikan renovasi dapur klien, tapi pembayaran baru akan diterima bulan depan. Secara bisnis sudah untung, tapi kas belum masuk.

Ini normal untuk bisnis proyek, tapi:

  • Terlalu besar aset kontrak bisa menekan kas

  • Membutuhkan manajemen arus kas yang disiplin

Piutang Turun: Sinyal Penagihan Mulai Jalan

Kabar baiknya:

  • Piutang usaha turun dari Rp25,61 miliar menjadi Rp16,91 miliar

Ini berarti:

  • Ada penagihan yang berhasil

  • Tidak semua proyek macet pembayarannya


Kas Masih Aman: Nafas Bisnis Masih Panjang

MEJA memiliki:

  • Kas dan bank Rp31,56 miliar

Untuk emiten dengan:

  • Pendapatan semesteran Rp31 miliar

  • Total liabilitas Rp22,35 miliar

Posisi kas ini tergolong cukup aman.

👉 Analogi sederhana:
Perusahaan masih punya “uang darurat” yang cukup untuk membayar kewajiban jangka pendek tanpa harus buru-buru mencari utang baru.


Investasi Rp10,97 Miliar: Potensi Katalis atau Beban?

Salah satu pos paling menarik adalah:

  • Investasi pada entitas lain sebesar Rp10,97 miliar

Ini menyedot kas cukup besar dan:

  • Belum memberikan kontribusi laba

  • Belum dijelaskan detail kontribusinya

Bagi investor, ini adalah zona abu-abu:

  • Bisa menjadi sumber pertumbuhan masa depan

  • Atau justru menahan ROE jika tidak produktif

👉 Dalam analisa fundamental, investasi seperti ini harus dipantau, bukan langsung dihakimi.


Struktur Utang: MEJA Tidak Agresif

Total liabilitas MEJA:

  • Rp22,35 miliar

Dengan ekuitas:

  • Rp84,73 miliar

Maka:

  • Debt to Equity Ratio (DER) ±0,26x

Artinya:

  • Utang relatif kecil

  • Risiko finansial terkendali

  • Tidak ada tekanan leverage berlebihan

Ini poin positif yang sering luput dari perhatian.


Arus Kas: Inilah Alasan MEJA Masih Layak Dicermati

Bagian paling “menenangkan” dari laporan ini adalah:

  • Arus kas operasi +Rp12,79 miliar

Bandingkan dengan laba bersih hanya Rp988 juta.

Artinya:

  • Laba bersih memang turun

  • Tapi uang tunai benar-benar masuk

👉 Analogi sederhana:
Lebih baik gaji kecil tapi dibayar tunai, daripada gaji besar tapi janji.

Arus kas operasi positif menunjukkan:

  • Bisnis masih berjalan sehat

  • Tidak ada manipulasi laba agresif

  • Proyek mulai dikonversi menjadi kas


Analisa Valuasi: Apakah Saham MEJA Murah?

Sekarang masuk ke bagian yang sering ditunggu investor: valuasi.

Pendekatan PBV

  • Ekuitas: Rp84,73 miliar

  • Jika harga saham MEJA diasumsikan di kisaran rendah pasca IPO

  • Maka PBV MEJA cenderung di bawah 1x

PBV < 1x berarti:

  • Pasar menghargai perusahaan di bawah nilai bukunya

  • Bisa jadi karena laba menurun

  • Atau pasar masih menunggu bukti konsistensi

Pendekatan PER

  • Laba bersih annualized (perkiraan kasar): ±Rp2 miliar

  • Jika market cap sekitar Rp150–200 miliar

  • Maka PER berada di kisaran 75–100x

Ini mahal secara PER, tapi:

  • Laba sedang tertekan sementara

  • Potensi rebound jika margin pulih

👉 Untuk saham proyek seperti MEJA, PER jangka pendek sering menyesatkan, PBV dan arus kas lebih relevan.


Kesimpulan: MEJA Bukan Saham Instan, Tapi Punya Cerita

MEJA bukan saham untuk trader yang mencari lonjakan cepat. Ini adalah saham dengan karakter:

  • Pendapatan tumbuh

  • Laba sedang tertekan

  • Arus kas membaik

  • Risiko utang rendah

Bagi investor pemula, MEJA mengajarkan satu hal penting:

Membaca laporan keuangan bukan soal mencari angka paling besar, tapi memahami ceritanya.

Jika ke depan MEJA mampu:

  • Memperbaiki margin

  • Mengendalikan beban

  • Mengoptimalkan investasi Rp10,97 miliar

Maka saham ini punya peluang re-rating.

Namun jika tidak, pasar kemungkinan akan tetap memberi diskon.

Di sinilah peran investor: menilai dengan kepala dingin, bukan emosi harga.

Sumber data

Laporan Keuangan PT Harta Djaya Karya Tbk (MEJA) periode semester I tahun 2025 (unaudited), laporan keuangan semester I tahun 2024, serta keterbukaan informasi perusahaan yang dipublikasikan melalui Bursa Efek Indonesia (BEI) dan situs resmi emiten.

Disclaimer

Artikel ini disusun untuk tujuan informasi dan edukasi berdasarkan data yang tersedia pada saat penulisan. Analisis fundamental dan valuasi yang disajikan bukan merupakan rekomendasi membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca dengan mempertimbangkan profil risiko masing-masing.