Bayangin lu punya usaha rental kapal tanker.
Di armada lu ada beberapa kapal tua.
Maintenance mahal.
Sering docking.
Kurang efisien BBM.
Lu mikir:
“Udah deh, jual aja kapal lama, ganti yang lebih muda dan lebih efisien.”
Sekarang Kita Pakai Angka Asli SOCI
Tahun 2025:
Lu beli kapal baru (perolehan aset tetap):
USD 45,4 juta
SOCI_Q4_2025
Lu jual kapal lama:
USD 31,47 juta
SOCI_Q4_2025
Artinya secara logika:
45,4 juta – 31,47 juta
≈ Lu nombok sekitar USD 14 juta bersih
Ini normal.
Namanya juga upgrade armada.
Tapi Kenapa Laba Jadi Minus Turun?
Nah ini yang sering bikin orang salah paham.
Di 2025, saat SOCI jual kapal lama, ternyata:
Rugi pelepasan aset tetap USD 7,63 juta
SOCI_Q4_2025
Artinya apa?
Bahasa simpelnya:
Harga jual kapal lama lebih rendah dari nilai bukunya di laporan keuangan.
Ibarat:
Lu beli mobil dulu 500 juta.
Di pembukuan masih tercatat 200 juta.
Tapi ternyata cuma laku 150 juta.
Secara akuntansi lu “rugi 50 juta”.
Padahal duitnya tetap masuk.
Jadi Minusnya Dari Mana?
Laba 2025:
USD 7,64 juta
SOCI_Q4_2025
Turun dari 2024 yang USD 17,14 juta
SOCI_Q4_2025
Penekan utamanya:
- ✔ Ada rugi jual kapal 7,6 juta
- ✔ Pendapatan turun sekitar 10 juta
- ✔ Freight rate normalisasi
Bukan karena beli kapal baru.
Karena beli kapal itu masuk neraca, bukan langsung jadi beban.
Baca Juga : SOCI Bentuk Eternity Ocean, Begini Prospeknya
Terus Kas Jebol Nggak?
Justru ini menarik.
Kas akhir 2025:
USD 33,1 juta
SOCI_Q4_2025
Kas 2024:
USD 21,5 juta
SOCI_Q4_2025
Artinya kas malah NAIK.
Kenapa bisa?
Karena:
✔ Dapat pinjaman bank USD 37,5 juta
SOCI_Q4_2025
✔ Ada sale & leaseback USD 18,9 juta
SOCI_Q4_2025
Jadi nggak pakai duit sendiri full.
Jadi Intinya Gini Bro…
Ibarat lu:
Jual 2 Kijang tua 100 juta.
Beli 2 Innova baru 900 juta.
Lu nombok 800 juta.
Secara laporan:
✔ Cashflow keluar
✔ Aset naik
✔ Bisa aja ada rugi akuntansi kalau harga jual di bawah nilai buku
Tapi tujuannya:
Armada lebih produktif
Maintenance lebih efisien
Siap angkut order lebih besar
Kenapa Laporan Q4 SOCI Terlihat “Minus”?
Karena:
- Ada rugi pelepasan kapal
- Siklus freight mulai normal
- Ada penyesuaian pembiayaan
Bukan karena kehabisan duit.
Bukan karena bisnis berhenti jalan.
Lebih ke fase:
Upgrade armada + normalisasi siklus.
Apakah Ini Tanda Manajemen Agresif?
Mari lihat faktanya.
Tahun 2025:
-
Capex beli aset tetap: USD 45,4 juta
-
Hasil jual aset: USD 31,47 juta
-
Rugi jual aset: USD 7,63 juta
-
Pinjaman bank baru: USD 37,5 juta
Strukturnya menunjukkan:
-
Ada upgrade armada
-
Ada tambahan utang
-
Ada realisasi rugi atas kapal lama
Ini bisa disebut agresif moderat, tetapi bukan ekspansi nekat.
Kenapa?
Karena total liabilitas justru turun dari:
-
2024: USD 202,29 juta
-
2025: USD 196,87 juta
Artinya meskipun ada pinjaman baru, perusahaan tetap melakukan pembayaran utang dalam jumlah besar. Jadi ini bukan ekspansi yang membahayakan neraca, melainkan penataan ulang struktur armada dan pembiayaan.
Lebih tepat disebut rebalancing armada daripada ekspansi agresif.
-
Apakah Ini Positioning Buat Rebound 2026?
Sekarang kita lihat performa operasionalnya.
Pendapatan:
-
2024: USD 165,63 juta
-
2025: USD 155,32 juta
Memang turun.
Namun laba usaha relatif stabil:
-
2024: USD 30,62 juta
-
2025: USD 29,98 juta
Artinya bisnis inti masih menghasilkan laba operasional yang hampir sama.
Penurunan laba bersih lebih disebabkan oleh:
-
Rugi pelepasan kapal
-
Beban lain-lain
-
Normalisasi freight rate
Jika kapal baru lebih efisien, lebih jarang docking, dan bisa mendapatkan kontrak yang lebih baik, maka 2026 berpotensi memiliki struktur biaya yang lebih sehat.
Strategi seperti ini biasanya dilakukan ketika manajemen melihat siklus mendekati titik rendah dan ingin siap ketika permintaan kembali membaik.
-
Dampak Depresiasi Kapal Baru ke Laba Tahun Depan
Capex 2025 sebesar USD 45,4 juta.
Jika umur ekonomis kapal diasumsikan 20 tahun, maka tambahan depresiasi per tahun kira-kira:
45,4 juta dibagi 20
Sekitar USD 2,27 juta per tahun.
Artinya jika pendapatan tidak naik, laba bisa tertekan tambahan sekitar USD 2 jutaan per tahun hanya dari beban depresiasi.
Namun jika kapal baru:
-
Meningkatkan utilisasi
-
Mengurangi biaya perawatan
-
Menghemat bahan bakar
-
Mendapat kontrak dengan tarif lebih baik
Maka tambahan margin operasional bisa menutup beban depresiasi tersebut.
Kesimpulan Besar
Apakah agresif?
Ya, tetapi masih dalam batas terkendali dan tidak merusak struktur neraca.
Apakah positioning untuk rebound?
Sangat mungkin. Ini terlihat seperti fase peremajaan armada sebelum siklus membaik.
Apakah ada risiko?
Ada. Jika freight rate kembali turun, depresiasi kapal baru bisa semakin menekan laba.
Insight Investor
Laba bersih 2025 memang terlihat lebih rendah.
Namun:
-
Kas meningkat menjadi USD 33,1 juta
-
Total utang menurun
-
Laba usaha relatif stabil
Ini bukan sinyal krisis operasional.
Lebih terlihat sebagai tahun transisi dan restrukturisasi armada.
Langkah berikutnya yang bisa dianalisis:
-
Menghitung normalised earning tanpa rugi jual kapal
-
Simulasi laba 2026 jika freight rate naik 10 persen
-
Atau skenario terburuk jika freight kembali melemah
Dari situ baru bisa dinilai apakah ini value trap atau fase awal pemulihan.
Sumber Data
Data keuangan dan informasi operasional dalam analisis ini bersumber dari Laporan Keuangan Konsolidasian Full Year 2024 dan Full Year 2025 PT Soechi Lines Tbk (SOCI) yang telah dipublikasikan melalui keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI).
Disclaimer
Analisis ini disusun berdasarkan laporan keuangan publik PT Soechi Lines Tbk (SOCI) tahun buku 2024 dan 2025 serta interpretasi logis atas data yang tersedia. Seluruh opini dan proyeksi merupakan pandangan independen penulis dan bukan merupakan rekomendasi beli atau jual saham.
Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing investor. Selalu lakukan riset lanjutan dan pertimbangkan profil risiko sebelum mengambil keputusan investasi.

0Komentar