Operasional Bisnis RMKE SAHAM

Bayangkan Kamu membeli sebuah saham saat harganya masih ratusan rupiah, lalu setahun kemudian nilainya sudah melonjak ribuan persen. Itulah cerita yang sedang dialami oleh PT RMK Energy Tbk (RMKE). Pada perdagangan Rabu, 7 Januari 2026, saham RMKE ditutup menguat di level Rp6.775 per saham, nyaris menyentuh rekor tertingginya di Rp6.800. Padahal, sekitar awal tahun lalu, saham ini masih bergerak di kisaran Rp486–Rp500 per saham. Dalam waktu 12 bulan, kenaikannya sudah melampaui 1.000% secara year-on-year (YoY).

Bagi investor pemula, lonjakan harga saham sebesar ini tentu memancing rasa penasaran. Apakah ini hanya euforia pasar, atau ada fondasi bisnis yang benar-benar menopangnya?


Hauling Road Jadi Kunci, Bukan Sekadar Penopang Tambahan

Jawaban atas pertanyaan tersebut mulai terlihat dari strategi bisnis RMKE. Kinerja saham yang impresif berjalan seiring dengan penguatan fundamental bisnis logistik batu bara yang menjadi tulang punggung perseroan. RMKE tidak hanya menjual batu bara, tetapi membangun ekosistem logistik terintegrasi, terutama melalui pengembangan hauling road yang menghubungkan area tambang langsung ke fasilitas angkutan utama.

Peran hauling road ini menjadi semakin krusial menjelang 2026. Pemerintah akan memberlakukan larangan pengangkutan batu bara melalui jalan umum di Sumatera Selatan mulai tahun depan. Artinya, perusahaan tambang dan logistik akan semakin bergantung pada jalur khusus dan moda kereta api. Dalam konteks ini, hauling road milik RMKE berubah dari sekadar infrastruktur pendukung menjadi aset strategis yang sulit tergantikan.

Saham RMKE Bidang Apa? Ini Bisnis Utama dan Produk Jasa RMK Energy

PT RMK Energy Tbk (RMKE) bergerak di bidang logistik batu bara terintegrasi, bukan sekadar perusahaan penambang atau pedagang batu bara. Fokus utama bisnis RMKE adalah menyediakan jasa pengangkutan dan penanganan batu bara dari area tambang hingga ke pelabuhan atau pengguna akhir.

Produk dan layanan utama RMKE meliputi jasa hauling batu bara melalui jalan khusus (hauling road), jasa coal handling seperti pemuatan dan pemindahan batu bara, jasa loading–unloading di pelabuhan, serta penjualan batu bara sebagai pendukung bisnis. Infrastruktur yang dimiliki mencakup hauling road eksklusif, loading station, container yard, hingga fasilitas pelabuhan dengan kapasitas besar.

Bagi investor pemula, penting dipahami bahwa model bisnis RMKE lebih menyerupai perusahaan infrastruktur dan logistik, di mana pendapatan jasa bersifat berulang dan relatif stabil. Inilah alasan segmen jasa (coal services) menjadi penyumbang utama laba perseroan, sekaligus fondasi pertumbuhan jangka panjang RMKE ke depan.


Tambahan Pelanggan, Tambahan Volume

Sebagai bagian dari persiapan memasuki 2026, RMKE telah menuntaskan pembangunan hauling road baru yang kini terhubung dengan tiga pelanggan baru, yakni PT Wiraduta Sejahtera Langgeng (WSL), PT Duta Bara Utama (DBU), dan Menambang Muara Enim (MME). Ketiga pelanggan ini berpotensi memberikan tambahan volume baru hingga 3 juta ton pada 2026.

Bagi investor pemula, volume adalah kata kunci. Semakin besar volume batu bara yang dilayani, semakin besar pula potensi pendapatan jasa logistik yang bisa dibukukan perusahaan.


Ekspansi Kapasitas untuk Mengimbangi Pertumbuhan

Manajemen RMKE memahami bahwa pertumbuhan volume harus diiringi dengan kesiapan infrastruktur. Karena itu, perseroan berencana membangun container yard baru yang akan menggandakan kapasitas loading station dari 4 juta ton menjadi 8 juta ton per tahun. Di sisi lain, kapasitas pelabuhan juga akan diperluas dari 20 juta ton menjadi 28 juta ton per tahun.

Langkah ini penting agar pertumbuhan tidak terhambat oleh bottleneck operasional, sekaligus menjaga efisiensi biaya dalam jangka panjang.


Kinerja Keuangan Mulai Mencerminkan Penguatan Operasional

Penguatan operasional RMKE mulai tercermin pada laporan keuangan kuartal III-2025. Perseroan mencatat operating revenue sebesar Rp546,7 miliar, tumbuh 5,7% secara tahunan. Yang menarik, struktur pendapatan RMKE kini relatif seimbang: sekitar 53,5% berasal dari segmen coal sales dan 46,5% dari segmen coal services.

Keseimbangan ini menunjukkan keberhasilan RMKE dalam mendiversifikasi sumber pendapatan dan mengurangi ketergantungan pada fluktuasi harga komoditas.

Baca Juga : Saham MEJA Naik Gila-Gilaan Karena Ini


Bisnis Jasa Jadi Mesin Laba

Dari sisi profitabilitas, RMKE membukukan laba bersih usaha sebesar Rp138,2 miliar, dengan sekitar 81,2% di antaranya berasal dari segmen jasa. Bagi investor pemula, ini adalah sinyal positif, karena bisnis jasa logistik umumnya memiliki margin yang lebih stabil dan berulang dibandingkan bisnis penjualan batu bara.

Dengan kata lain, laba RMKE tidak lagi semata-mata bergantung pada harga batu bara di pasar.


Proyeksi 2026: Volume, Pendapatan, dan Laba Melonjak

Menatap 2026, RMKE memproyeksikan volume coal services meningkat dari sekitar 8 juta ton pada 2025 menjadi lebih dari 12 juta ton pada 2026. Dengan optimalisasi aset eksisting dan ekspansi layanan logistik, perseroan menargetkan pendapatan sekitar Rp4,1 triliun serta laba bersih sekitar Rp800 miliar pada 2026.

Target ini mencerminkan keyakinan manajemen bahwa fondasi operasional yang dibangun saat ini akan mulai menghasilkan dampak signifikan pada tahun depan.


Peluang Kontrak Besar dari PTBA dan Tambang Lain

Selain pertumbuhan organik, RMKE juga menargetkan penambahan 2–3 pelanggan baru pada 2026. Salah satu peluang terbesar datang dari rampungnya jalur hauling yang terhubung dengan tambang PT Bukit Asam Tbk (PTBA). Di samping itu, kontrak-kontrak eksisting juga akan dikembangkan dan diintegrasikan dengan tambang lainnya.

Bagi investor, potensi kontrak jangka panjang seperti ini memberikan visibilitas pendapatan yang lebih jelas.


Dividen Jadi Daya Tarik Tambahan

Kinerja operasional yang membaik juga membuka ruang bagi pembagian dividen. Direktur Utama RMKE, Vincent Saputra, menyatakan bahwa dengan posisi kas di atas Rp250 miliar, perseroan menargetkan rasio dividen minimum 20%. Nilai dividen tahun ini diperkirakan dapat melampaui Rp40 miliar, jauh lebih besar dibandingkan tahun sebelumnya.

Bagi investor pemula yang mencari kombinasi capital gain dan dividen, ini menjadi poin penting untuk diperhatikan.


Pendanaan Ekspansi Tetap Terkendali

Untuk mendukung ekspansi ke depan, RMKE berencana menerbitkan obligasi pada Februari 2026 dengan target dana sekitar Rp600 miliar. Meski melakukan pendanaan, perseroan menegaskan rasio utang (DER) tetap dijaga di level sekitar 0,6 kali. Angka ini tergolong rendah untuk perusahaan infrastruktur, sehingga risiko keuangan masih relatif terkelola.


Dari Euforia ke Fondasi Jangka Panjang

Lonjakan harga saham RMKE memang mencuri perhatian. Namun, di balik kenaikan lebih dari 1.000% tersebut, terdapat cerita tentang pembangunan infrastruktur, perubahan regulasi, dan transformasi model bisnis. Bagi investor pemula, memahami fondasi inilah yang jauh lebih penting daripada sekadar terpukau oleh grafik harga.

RMKE kini berada di persimpangan menarik: apakah hanya akan dikenang sebagai saham yang “terbang tinggi”, atau justru sebagai perusahaan logistik batu bara terintegrasi yang tumbuh berkelanjutan.

Sumber Data

Informasi dalam artikel ini disusun berdasarkan keterbukaan informasi PT RMK Energy Tbk (RMKE), paparan publik perseroan, laporan keuangan periode kuartal III-2025, serta pernyataan manajemen dan analis pasar modal yang dikutip dari sumber resmi dan dapat dipertanggungjawabkan.


Disclaimer

Artikel ini disajikan untuk tujuan edukasi dan informasi bagi pembaca, khususnya investor pemula, dan bukan merupakan ajakan membeli atau menjual saham tertentu. Seluruh keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa depan. Pembaca disarankan untuk melakukan analisis mandiri dan/atau berkonsultasi dengan penasihat keuangan berizin sebelum mengambil keputusan investasi.