Update Fundamental Saham BTPS, Laba Bank BTPN Syariah Tbk (BTPS) tahun 2025 memang naik 13% menjadi Rp1,2 triliun, tetapi kinerja 4Q25 justru berada di bawah ekspektasi karena tekanan pendapatan dan provisi yang lebih tinggi. Kinerja BTPS 4Q25 menunjukkan laba tumbuh secara tahunan, namun margin tertekan akibat restrukturisasi Rp302 miliar dan Cost of Credit yang masih tinggi di 8,2%.
Sekarang pertanyaannya: apakah ini sinyal pelemahan fundamental, atau justru fase “bersih-bersih” sebelum kembali tumbuh? Mari kita bedah datanya pelan-pelan, karena di balik angka yang terlihat lesu, ada cerita besar tentang kualitas aset, strategi konservatif, dan potensi pemulihan 2026.
Oke, sekarang kita ngobrol santai ya. Tapi sebelum mulai, kalo kamu belum baca kinerja di awal tahun 2025 sebaiknya baca dulu fundamental saham BTPS awal Tahun 2025.
Bayangkan kamu lagi lihat raport anak sekolah. Nilainya naik dibanding tahun lalu. Secara umum bagus. Tapi… ternyata nilainya masih di bawah ekspektasi guru. Kira-kira rasanya gimana?
Nah, kurang lebih seperti itulah kondisi kinerja BTPS di 4Q25 dan FY25.
Labanya naik. Tapi pasar berharap lebih. Dan ada beberapa PR yang belum selesai.
Saya akan jelaskan pelan-pelan, pakai bahasa yang mudah dicerna. Tapi tenang, semua angka tetap kita bahas lengkap dan logis. Kita tetap profesional, hanya saja cara menyampaikannya lebih ramah untuk pemula.
1️⃣ Laba Naik 13%, Tapi Kenapa Pasar Kurang Puas?
Pertama, kita lihat angka paling penting dulu.
PATMI (laba bersih setelah pajak dan kepentingan minoritas) FY25 tumbuh 13% YoY menjadi Rp1,2 triliun.
Artinya apa?
Kalau tahun lalu misalnya laba sekitar Rp1,06 triliun (ilustrasi logika pertumbuhan 13%), sekarang jadi Rp1,2 triliun. Jadi secara nominal, BTPS tetap bertumbuh.
Tapi… ada “tapi”-nya.
-
Angka Rp1,2 triliun ini 8% lebih rendah dari estimasi analis
-
Dan 4% lebih rendah dari konsensus pasar
Jadi pasar sebenarnya berharap laba lebih tinggi lagi.
Masuk ke 4Q25:
-
PATMI turun 15% QoQ
-
Turun 12% YoY
Jadi kalau dibanding kuartal sebelumnya dan kuartal yang sama tahun lalu, laba justru melemah.
Ini sinyal bahwa ada tekanan nyata di kuartal terakhir 2025.
2️⃣ Sumber Masalahnya: Pendapatan Melemah
Sekarang kita lihat ke dapurnya bank: Net Interest Income (NII).
Di 4Q25:
-
NII turun 2% QoQ
-
Turun 3% YoY
Full year 2025:
-
NII sebesar Rp4,7 triliun
-
Turun 3,4% YoY
Kenapa bisa turun?
Jawabannya: restrukturisasi portofolio di Sumatra.
Jadi ada pembiayaan yang direstrukturisasi. Dalam sistem perbankan syariah, ketika pembiayaan direstrukturisasi, margin tidak bisa langsung diakui seperti biasa.
Akibatnya?
Pendapatan margin “ditahan” dulu.
Jadi secara kas mungkin belum tentu hilang, tapi secara pencatatan akuntansi, belum bisa diakui sebagai pendapatan.
Itulah yang bikin NII turun menjadi Rp4,7 triliun dan melemah 3,4% dibanding tahun sebelumnya.
3️⃣ Laba Operasional Ikut Turun, Biaya Makin Berat
Sekarang kita lihat PPOP (Pre-Provision Operating Profit).
4Q25:
-
Turun 2,3% QoQ
-
Turun 8,9% YoY
Full year:
-
Turun 10,9% YoY
Artinya sebelum cadangan kerugian kredit pun, keuntungan operasionalnya sudah melemah.
Lalu kita lihat CIR (Cost to Income Ratio):
-
FY25: 49%
-
FY24: 45%
Artinya apa?
Dulu dari setiap Rp100 pendapatan, Rp45 dipakai untuk biaya.
Sekarang dari setiap Rp100 pendapatan, Rp49 dipakai untuk biaya.
Biayanya makin “makan” porsi pendapatan.
Dan manajemen bilang bahwa di FY26, CIR kemungkinan sedikit lebih tinggi lagi YoY.
Kenapa?
Karena ada investasi berkelanjutan untuk mendukung pertumbuhan.
Jadi ini seperti orang yang lagi bangun rumah. Uangnya banyak keluar dulu. Harapannya nanti rumahnya jadi dan menghasilkan.
4️⃣ Cost of Credit Masih Tinggi, Tapi Sudah Dicadangkan
Cost of Credit (CoC) FY25 ada di 8,2%.
Memang sedikit turun dibanding periode sebelumnya. Tapi masih lebih tinggi dari ekspektasi pasar.
Kenapa?
Karena BTPS mencadangkan penuh portofolio terdampak di Sumatra.
Total pencadangan:
Rp85,5 miliar hingga Des-25.
Artinya bank memilih bersikap konservatif. Risiko langsung “disapu bersih” dulu.
Ini langkah yang sehat.
Manajemen memperkirakan di FY26 CoC akan menurun, karena portofolio bermasalah tersebut sudah sepenuhnya dicadangkan.
Kalau dianalogikan, ini seperti kita sudah bayar semua biaya berobat sekarang, supaya ke depan tidak ada kejutan tagihan lagi.
5️⃣ Pembiayaan Tumbuh Tipis, Tapi Itu Memang Disengaja
Pembiayaan FY25 tumbuh 1,8% YoY.
Target awal manajemen sebenarnya stagnan (0%).
Jadi secara realisasi, malah lebih baik dari target internal.
Kenapa tumbuhnya kecil?
Karena manajemen sengaja menekan ekspansi untuk memperbaiki kualitas aset.
FDR (Financing to Deposit Ratio) ada di 85%.
Ini angka yang sehat. Tidak terlalu agresif, tidak terlalu pelan.
Jadi bank masih likuid dan tidak memaksakan pembiayaan.
6️⃣ Kabar Baik: Kualitas Aset Mulai Stabil
Nah ini bagian yang bikin kita agak lega.
Beberapa indikator membaik:
-
Rasio X-Days turun ke 0,6%
-
Tingkat pembayaran tepat waktu naik ke 92,5%
-
NPF turun ke 2,9%
-
Pembentukan NPL baru turun ke 6,8% (dari 11,3% di 4Q24)
Penurunan new NPL dari 11,3% ke 6,8% itu signifikan.
Artinya kredit macet baru yang muncul jauh lebih sedikit dibanding tahun lalu.
Ini tanda bahwa strategi moderasi pembiayaan mulai membuahkan hasil.
7️⃣ Tapi Ada Beban Rp302 Miliar yang Masih Menggantung
Ada pembiayaan restrukturisasi sebesar Rp302 miliar.
Masalahnya:
-
Tidak membukukan pendapatan margin di Des-25
-
Akan terus membebani pendapatan sampai 2026, tergantung pemulihan
Manajemen memperkirakan:
-
40% nasabah terdampak kembali membayar di Mar-26
-
60% sisanya pulih bertahap mulai Apr-26 dan selama 12 bulan berikutnya
Artinya pemulihan penuh bisa memakan waktu sampai 2027.
Jadi jangan heran kalau top line di 2026 belum langsung melesat.
8️⃣ Target 2026: Laba Tumbuh High Single Digit
Manajemen menargetkan pertumbuhan laba bersih high-single digit di FY26.
Artinya kira-kira 7–9%.
Untuk mencapai itu, pembiayaan harus tumbuh lebih tinggi dibanding 1,8% YoY di FY25.
Jadi kemungkinan 2026 akan menjadi fase mulai ekspansi lagi.
Tapi tentu dengan tetap menjaga kualitas aset.
9️⃣ Ada Mesin Baru: Model Tepat Imbang
BTPS menguji model bisnis baru bernama Tepat Imbang.
Ini pembiayaan non-group lending.
Karakteristiknya:
-
Plafon Rp15–50 juta
-
Menyasar kota tier-2 dan tier-3
-
Skema berbasis soft-collateral
Hingga Des-25:
-
Sudah diuji di 10 lokasi
Rencana:
-
Ekspansi luas di 2H26
-
Tambahan 80–100 lokasi hingga akhir 2026
-
Fokus di Sumatra, Jawa, dan Sulawesi
Ini menarik.
Karena selama ini BTPS identik dengan group lending. Sekarang mereka mulai masuk segmen baru.
Kalau berhasil, ini bisa jadi mesin pertumbuhan baru.
Kalau gagal? Bisa jadi sumber risiko baru.
Itulah pentingnya eksekusi.
Baca Juga : Abadi Kreasi Borong Saham INET, Kepemilikan Tembus 59%
Jadi, Sebenarnya 4Q25 Ini Bagus atau Tidak?
Jawabannya: tidak jelek, tapi belum memuaskan.
Ringkasnya:
✅ Laba FY25 naik 13% ke Rp1,2 triliun
❌ Tapi di bawah ekspektasi pasar
❌ NII turun 3,4% YoY jadi Rp4,7 triliun
❌ CIR naik ke 49%
❌ CoC masih tinggi di 8,2%
Namun:
✅ NPF turun ke 2,9%
✅ New NPL turun dari 11,3% ke 6,8%
✅ Rasio pembayaran tepat waktu naik ke 92,5%
✅ Rp85,5 miliar sudah dicadangkan penuh
Cara Berpikir Investor Fundamental
Kalau kita meniru cara berpikir seperti Warren Buffett, kita tidak hanya melihat satu kuartal.
Kita akan bertanya:
-
Apakah masalah ini sementara?
-
Apakah manajemen bertindak rasional?
-
Apakah fondasi bisnis masih kuat?
Dari data yang ada, masalah BTPS lebih ke tekanan regional (Sumatra) dan siklus ekonomi, bukan kerusakan model bisnis.
Manajemen memilih jalan konservatif:
-
Memperlambat pertumbuhan
-
Mencadangkan penuh Rp85,5 miliar
-
Tidak memaksakan ekspansi
Ini bukan gaya agresif. Ini gaya hati-hati.
Kesimpulan Akhir (Versi Ramah Pemula)
BTPS di 2025 itu seperti orang yang lagi sakit flu.
Bukan sakit berat.
Tapi lagi kurang fit.
Mereka:
-
Sudah minum obat (pencadangan Rp85,5 miliar)
-
Sudah istirahat (moderasi pembiayaan 1,8%)
-
Sudah mulai olahraga lagi (indikator kualitas aset membaik)
Tinggal tunggu pemulihan penuh.
Kalau 2026 berjalan sesuai rencana:
-
CoC turun
-
Margin kembali normal
-
Ekspansi Tepat Imbang berjalan baik
Maka pertumbuhan bisa kembali stabil.
Sebagai investor, pertanyaannya sederhana:
Apakah Anda hanya melihat penurunan laba 4Q25 sebesar 15% QoQ?
Atau Anda melihat proses pembersihan dan persiapan fondasi untuk 2–3 tahun ke depan?
Di situlah perbedaan trader dan investor jangka panjang.
Dan di situlah biasanya peluang tersembunyi berada.

0Komentar